Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juli 2017

Kegiatan dari Alumni Buat Smada Tanggal 29 Juli 2017








Nama : Yogha Setiawan
Kelas : XI-IPA 4
NIS : 15462
No.Telepon :081338684033
Judul :”Taman Jombang”
Dengan lampion bertuliskan Alun-Alun Jombang dan lampu kenderaan melintas.Foto ini diambil pada tanggal 12 September 2016 pukul 19.49. Dengan Resolusi 4272 x 2848 pixels. Alun-Alun Jombang sebagai salah satu taman yang terkenal di Kota Jombang, selain itu Alun-Alun ini memiliki
tempat yang strategis sebelah timur adalah Pendopo Jombang dan Sebelah barat yaitu masjid agung Kota Jombang. Jika siang hari Alun-alun sperti hamparan rumput yang luas dan hijau, jika malam hari Alun-alun akan dipenuhi para penjual berbagai kuliner disinilah keunikan Alun-Alun Jombang.
Para wisatawan bisa mencoba masakan kuliner disini. Tidak hanya kuliner yang dijual ada juga seperti mainan, pakaian, sepatu, dll. Jadi Alun-alun sebagai salah satu destinasi wisata Kota Jombang yang wajib dikunjungi oleh wisatawan.


Nama : Yogha Setiawan
Kelas : XI-IPA 4
NIS : 15462
No.Telepon :081338684033
Judul : "0 kilometer Jombang"
Dengan latar langit malam dihiasi gemerlap lampu kota dan kendaraan melintas. Foto ini diambil pada tanggal 12 September 2016 pukul 18.13. Dengan resolusi 4272 x 2742 pixels. Ringin Contong ditetapkan sebagai acuan titik nol Kota Jombang tanggal 20 September 1877. Didirikan oleh
Bupati pertama Jombang yaitu Raden adipati Arya Soeroadiningrat V tanggal 22 Februari 1910 sebagai symbol Pengayoman. Semakin bertambahnya zaman Ringin Contong menjadi salah satu ikon Kota Jombang dan destinasi Wisata di Jombang yang terkenal.


Nama: DEVINA WAHYU ANDRIANI
Kelas: XI IPA 6
NIS: 15221
No. HP: 082266048682
Instagram: @dvnandr
Judul Foto: Kita dalam cerita
Narasi:
Kami adalah pengurus MPK/OSIS SMAN 2 Jombang 2016/2017 persahabatan kami tumbuh dan berkembang di organisasi yang kerap disapa PACINKO. Dalam masa reses, kami memilih menghabiskan waktu untuk meng-Explore Jombang. Foto di bawah ini diambil pada tanggal 4/12/2016 di Air Terjun Pengajaran, Wonosalam. Kawasan Wonosalam memang mashur destinasi wisata dan Pesona Alamnya, salah satunya kami buktikan  dengan berkunjung ke Pengajaran, Air Terjun setinggi 185m dengan Track yang cukup sulit menjadi saksi perjalanan kami dan cerita yang akan dinanti suatu saat nanti.
_ Air Terjun Pengajaran - Wonosalam.


Nami : Achmad zamroni
Kelas : XI IPA 7
NIS : 15151
No. Telpon : 085748383874
Irah-irahan : Wigatining Toleransi
Narasi :
Toleransi yaiku salah sawijining tumindak ingkang wigati kanggo jaga persatuane bangsa, tanpa anane rasa toleransi marang liyane bakal ndadekno pecahe bangsa. Kita kudu seneng yen Jombang didadekno “The Most Harmonious City in ASEAN” kang ditandai dening dikibarnoe bendera-bendera negara ASEAN lan dibangune “Taman ASEAN” ing kawasan Tugu Ringin Contong. Rasa seneng tok ora cukup tanpa dibarengi karo tumindak kang mujudake toleransi marang liyane, rong dino kepungkur, benere dina Jumat isuk tanggal 2 Juni 2017 gelar lan taman iku diresmino kanggo kabeh masyarakat Jombang. Mula, Ayo dulur padha sesarengan jaga persatuan kanggo kelangsungane bangsa Indonesia. #AkuIndonesia#akuPancasila
_ Ringin Contong Jombang.


Nama : Ziauddin Haq Vafian Zafiro
Kelas. : XI IPA 6
No hp : 083856988758
Judul. : Ruang Terbuka Hijau
Taman Keplaksari merupakan sebuah taman yang lebih dikenal dengan sebutan ruang terbuka hijau (RTH) yang berada di desa Keplak Sari,kecamatan
Peterongan kabupaten Jombang,Jawa Timur,Indonesia. Taman ini memiliki lokasi yang srategis dan sangat cocok untuk dijadikan tempat wisata
keluarga dan pelajar. Pengunjung juga biasa melakukan aktivitas jogging saat pagi atau sore hari. Udara sejuk serta pemandangan yang indah di
taman ini memang sangat pas untuk melakukan berbagai hal.
_ Taman Kota Jombang Keplak Sari.




Nama : Yogha Setiawan 

Kelas : XI-IPA 4
NIS : 15462
No.Telepon :081338684033
Judul :”Si Tua yang kokoh”
Semua warga Jombang pasti tau salah satu bangunan bersejarah ini yaitu GKJW atau Gereja Kristen Jawi Wetan. Foto dengan latar langit dan sebuah bangunan klasik berwarna abu-abu menambahkan effek seperti jaman dahulu. Foto ini diambil pada tanggal 20 Juni 2016 pukul 10.07. GKJW sebagai
salah satu bangunan tertua di Jawa Timur yang didirikan pada tanggal 11 Desember 1936. Bangunan Gereja Kristen yang bertuliskan Aksara Jawa serta arsitektur yang klassik menambah eksistensi bangunan ini di masa modern ini. Gereja ini biasanya mengadakan suatu acara adat seperti unduh-unduh, drama kenaikan Yesus Kristus, hari paskah dll. Sehingga banyak fotografer datang kemari untuk memotret bangunan ini dan acara adat yang dilaksanakan. Tapi perlu diketahui kalau ingin kemari harus mengerti kondisi dan tata tertib di Gereja ini untuk menghormati para jemaat yang ada disini.



Nama: Annora Fathima Azzahra
Kelas: XI IPA 1
No. Induk: 15180
No. Hp: 082167638521
IG: @annorafa_
Judul: "Nambang"
Lokasi: Megaluh, Jombang
Cerita:
Kita sebagai makhluk sosial yang selalu sibuk berkegiatan tentu tidak bisa lepas dari yang namanya alat transportasi. Ternyata, ada transportasi unik yang perlu disorot di desa Ngogri, kecamatan Megaluh. Di desa ini masyarakat sekitar menggunakan cara "nambang" atau menyebrang Kali Brantas dengan menaikkan sepeda atau mobilnya di atas perahu untuk mempersingkat waktu perjalananya. Untuk bisa merasakan "nambang" kita hanya perlu merogoh kocek sebesar 2000 rupiah. Harga ini jelas sangat terjangkau untuk pengalaman semenarik ini.



Nama : Ziauddin Haq Vafian Zafiro
Kelas. : XI IPA 6
No hp. : 083856988758
Judul. : Wisata Budaya Desa
Wisata Sendang Made Jombang , adalah salah satu tempat wisata alam , yang berada di Desa Made , Kecamatan Kudu , Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Saya memilih sendang made karena memiliki potensi untuk dikembangkan lebih maju dan modern, misalnya penambahan fasilitas, dan juga bisa meningkatkan nilai ekonomi contohnya ( sebagai tempat Outbond di area sendang made, sebagai tempat perkemahan, adanya penjualan tiket masuk )
Selain itu Sendang Made memiliki nilai sejarah, salah satunya sebagai ‘Nyepi’ (aktivitas meditasi) tempat Prabu Airlangga bersama istrinya, wanita menunggu dan banyak prajurit, setelah diserang oleh kerajaan lain.
_ Sendang Made


Nama: Annora Fathima Azzahra
Kelas: XI IPA 1
No. Induk: 15180
No. Hp: 082167638521
IG: @annorafa_
Lokasi: Kampoeng Djawi, Wonosalam
Judul: Keindahan yang tersembunyi
Cerita:
Terbesit sedikit rasa kekecewaan saat mengetahui libur hari raya ini aku sekeluarga tidak berpergian jauh. Tapi untuk menghibur hati, setelah tradisi sungkem dilaksanakan di rumah nenek, papa mengajak kami sekeluarga ke tempat wisata yang terkenal di Wonosalam yaitu Kampoeng Djawi.
Sempat berprasangka buruk karena jalan menuju tempat tersebut sangatlah tidak layak. Ternyata tidaklah seperti yang ada di benakku. Tempat yang menarik serta pemandangan yang indah ini, sangat memikat hati sehingga "instagramable" banget bagi kaum pemuda pemudi. Semoga saja, nantinya
pemerintah lebih memperhatikan akses ke seluruh tempat wisata yang ada di Jombang. Sehingga masyarakat Jombang tidak perlu jauh-jauh ke luar kota untuk bisa menikmati indahnya wisata.


Nama: DEVINA WAHYU ANDRIANI
Kelas: XI IPA 6
NIS: 15221
NO.HP: 082266048682
Judul Foto: JOMBANG BERIMAN
Narasi:
Sebagai kota yang terkenal dengan slogan khas JOMBANG BERIMAN, maka tak heran jika kabupaten Jombang memiliki destinati wisata Religius. Kawasan Makam Gus Dur dan Museum Islam Nusantara merupakan salah satu objek wisata edukasi Muslim di Kab. Jombang.Tak hanya dikenal sebagai Kota Santri jargon Bersih, Indah dan Nyaman sering disematkan kepada Jombang untuk mendongkrak jumlah wisatawan domestik meningkat.
Saat kita berada di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, selain berziarah ke Makam Mantan Presiden RI ke-4 yaitu KH. Abdurrahman Wahid kini wisatawan dapat melanjutkan kunjungannya ke Museum Islam Nusantara yang kini pembangunannya sudah 95%.
Saatnya, Kita warga Jombang dan Generasi Muda membantu pemerintah untuk mempromosikan destinasi-destinasi wisata baru di Jombang,
dengan adanya media sosial sebagai salah satu perantara untuk menyebar luaskan Wisata Jombang.



Nama: Annora Fathima Azzahra
Kelas: XI IPA 1
No. Induk: 15180
No. Hp: 082167638521
IG: @annorafa_
Judul: Grand Canyon di Jombang
Lokasi: Kedung Cinet, Plandaan
Cerita:
Sudah sangat tidak asing lagi saat mendengar nama Kedung Cinet. Walaupun letaknya ada di tengah hutan yang lebat, Grand Canyon-nya Jombang ini sudah banyak dikunjungi lho. Hal ini mungkin dikarenakan oleh indahnya pemandangan, jernihnya air dan belum adanya karcis di tempat ini.


Nama: DEVINA WAHYU ANDRIANI
Kelas: XI IPA 6
NIS: 15221
No.HP: 082266048682
Instagram: @dvnandr
Judul Foto: Pesona Wonosalam
Narasi:
Siapa yang tak kenal Wonosalam? Destinasi unggulan Jombang banyak tersebar luas di Kecamatan Wonosalam, mulai dari acara KenDuren, Bancakan Salak, hingga pawai Ogoh-ogoh setiap kegiatan memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang khusus untuk melihatnya. Selain pagelaran acara wisata, Wonosalam tak kehabisan cara untuk menggaet wisatawan. Air terjun Pengajaran, air terjun Sekelip,air terjun Sanggar, penanjakan Seloringgit, Kampoeng Djawi hingga air terjun baru yaitu Air terjun Sekar Pudak Sari serta masih banyak lainya. Namun, ada yang menarik perhatian saya, Goa Sigolo-golo. Goa Sigolo-golo sangat mudah untuk dikunjungi, akses yang dekat dengan parkiran serta trek yang tidak susah untuk menuju ke sana. Dan yang paling penting, view pemandangan yang ditawarkan sangat indah untuk berfoto dan berelaksasi dari kegiatan sehari-hari.
— at Wisata Goa Golo-golo Wonosalam.

Rabu, 12 Agustus 2015

Rafting Sungai Boro Wonosalam Jombang

 Wonosalam yang kaya akan sumber mata air, menyebabkan sungai di wilayah wonosalam mempunyai daya tarik tersendiri untuk melakukan kegiatan wisata rafting.
Kegiatan Rafting di Wonosalam (boro) Rafting memang mendebarkan, menggairahkan, basah, penuh tantangan dan luar biasa menyenangkan. Sungai Boro “Kaliboro” yang masih asri dan alami menambah kegiatan rafting semakin mengesankan.
Wonosalam Rafting memiliki  2-Dua Trip andalan yang sementara ini menjadi tujuan dari para pecinta wisata arung jeram. Trip pertama [jalur pendek] adalah dari start disekitar basecamp palapa rafting yang di support oleh Songa Adventure dengan finish di wisata gua sigolo-golo. Trip pendek ini kurang lebih bisa ditempuh selama 1.5 – 2 jam.
Trip kedua di Boro rafting jombang adalah trip panjang yang bisa ditempuh kurang lebih 2.5 – 3 jam. Menyusuri sungai Boro yang di kanan kirinya adalah hutan merupakan tantangan yang mendebarkan. Jeram Sungai Boro dan airnya yang mengalir bening adalah bagian yang tak terlupakan saat menikmati wisata wonosalam rafting.
Wonosalam Training Center bekerjasama dengan boro rafting  dan Palapa rafting juga memberikan kemudahan dalam pemesanan kegiatan rafting Wonosalam. Selain sebagai tempat pemesanan Wonosalam Training Center juga menyediakan penginapan untuk bermalam selepas menikmati jeram wonosalam Rafting.

Apakah kegiatan di Boro Rafting Aman?
Seperti dengan semua olahraga petualangan pada umumnya, ada risiko yang bisa terjadi. Namun risiko itu memberikan kontribusi untuk kegembiraan, dan merupakan salah satu alasan orang menikmati arung jeram begitu banyak Sengatan terik matahari saat melakukan kegiatan di boro rafting adalah salah satu resiko saat melakukan rafting di siang hari.
Asiknya menikmati jeram kadang menyebabkan terbaliknya perahu sehingga penumpang bisa tercebur kedalam air, basah tentunya. Dan kadang batu kali menggores kulit saat berusaha untuk bangkit dari air. Seperti berlari dan kita terjatuh, tentunya juga luka ringan dikulit sering menyertainnya. Namun kegembiraan menikmati jeram menyebabkan resiko kecil adalah sebuah kenangan saat melakukan tantangan petualangan Jombang rafting.
Dengan Pemandu yang professional dan terlatih tentu resiko dalam menikmati kegiatan di Jombang rafting akan semakin kecil terjadi.
Semakin ramainya peminat wisata arung jeram atau rafting di daerah Jombang, membuat boro rafting ikut serta dalam menyediakan informasi yang cepat dan mudah seputar kegiatan boro rafting dan atau rafting Jombang dan juga Wonosalam rafting.
Tim kami bekerjasama dengan Boro eco adventure menyediakan informasi tentang kegiatan rafting dan juga reservasi atau pemesanan untuk kegiatan rafting di sungai boro.
Boro rafting terletak di dusun Mendiro desa Panglungan Kecamatan Wonosalam Jombang. Untuk mencapai lokasi ini bisa dengan mudah diketemukan. beberapa jalur yang bisa dilewati antara lain:

Dari Surabaya bisa melalui pertigaan Brangkal ke selatan melewati Jatirejo- Jabung-wonosalam. Juga bisa melalui pertigaan terminal Mojoagung ke selatan terus mengikuti petunjuk agrowisata panglungan.

Jumat, 20 Maret 2015

mBah Sayid Sulaiman Mojoagung

Banyak wisata Religi di daerah Jombang, dimana kota ini telah lama terkenal dengan julukan kota santri, setidaknya ada Lima pondok pesantren besar di Jombang yang terkenal seperti Ponpes Tebuireng di Cukir Diwek, Ponpes Darul Ulum di Rejoso Peterongan, Ponpes Bahrul Ulum di Tambakberas, Ponpes Mambaul Maarif di Denanyar dan Ponpes Luhur Nurhasab di Gadingmangu Perak.

Kelenteng Hong San Kion di Gudo, juga sering dikunjungi wisatawan sebagai wisata religi di Jombang, Selain dikenal sebagai tempat ibadah Tridarma (Agama Taoisme, Budha, dan Konghucu) juga sebagai tempat berobat. Menariknya yang datang untuk berobat juga banyak yang dari kalangan pribumi. Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, kelenteng ini mengadakan acara hajatan yang cukup meriah, seperti Wayang Potehi maupun Pagelaran Barongsay.

Begitu Juga Gereja Mojowarno merupakan gereja tertua di kawasan, serta dulunya pernah menjadi pusat salah satu aliran Kristen Protestan pada zaman Belanda. Setiap setahun sekali, gereja ini mengadakan upacara kebetan dan unduh-unduh, yang sarat akan kultur lokal.

Kali ini kita bergeser ke arah timur jombang kecamatan Mojoagung, disitu terdapat wisata religi yang tidak pernah sepi pengunjung. tepatnya di perbatasan desa mancilan-Betek Mojoangung terdapat makam mbah Sayid Sulaiman yang sering dikunjungi para peziarah. Dan rasanya kurang pas kalau berziarah tanpa tau sejarah mbah Sayid, berikut adalah biografi Mbah Sayid Sulaiman.

Biografi Sayid Sulaiman Betek Mojoagung Jombang

Sekitar pertengahan abad ke-16 Masehi tersebutlah seorang pemuda gagah berdarah Arab di tepi barat pulau Jawa, Cirebon. Selama beberapa bulan ia berlayar dari kampung halamannya di negara Yaman. Saat itu memang sedang gencar-gencarnya orang-orang Arab berimigrasi ke tanah Jawa. Dan salah satunya adalah kakek Mbah Sayid Sulaiman, tokoh yang disebut di awal tulisan ini.

Orang-orang Arab ini datang dengan maksud bermacam-macam. Ada yang berdakwah untuk menyebarkan agama Islam, ada pula yang berniaga seraya berdakwah. Pemuda itu bernama Abdurrahman. Ia adalah seorang Sayid keturunan Rasulullah yang bergelar Basyaiban. Basyaiban adalah gelar warga habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, seorang ulama terkemuka di Tarim, Hadramaut, yang terkenal alim dan sakti. Sayid Abu Bakar mendapat julukan Syaiban (yang beruban) karena ada kisah unik dibalik julukannya itu.

Suatu ketika, Sayid Abu Bakar yang saat itu masih tergolong muda menghilang. Sejak itu ia tidak muncul-muncul. Konon, ia uzlah untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Baru setelah sekitar tiga puluh tahun, Sayid Abu Bakar muncul di Tarim. Ia tetap tampak muda. Tapi aneh, rambutnya putih, tak selembar pun yang hitam. Ia seperti berambut salju. Sejak itulah orang-orang menjulukinya Syaiban (yang beruban). Abdurrahman masih tergolong cicit dari Sayid Abu Bakar Basyaiban. Ia putra sulung Sayid Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban. Lahir pada abad 16 Masehi di Tarim, Yaman bagian selatan, perkampungan sejuk di Hadramaut yang masyhur sebagai gudang para wali.

Dalam masa perantauannya ke Nusantara, tepatnya di Pulau Jawa, Sayid Abdurrahman memilih bertempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian, ia mempersunting putri Maulana Sultan Hasanuddin (?-1570 M). Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia bernama Syarifah Khadijah, cucu Raden Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari pasangan dua keturunan Rasulullah ini, lahir tiga orang putra: Sayid Sulaiman, Sayid Abdurrahim (terkenal dengan sebutan Mbah Arif Segoropuro Pasuruan), dan Sayid Abdul Karim. Mewarisi ketekunan leluhurnya dalam berdakwah, keluarga ini berjuang keras menyebarkan Islam di Jawa, tak jauh dengan apa yang telah dilakukan oleh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati, di Cirebon.

Pengaruh dan ketekunan mereka dalam berdakwah membuat penjajah Belanda khawatir. Maka ketika menginjak dewasa, Sayid Sulaiman dibuang oleh mereka. Putra sulung Sayid Abdurrahman ini, kemudian tinggal di Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah. Di Pekalongan, beliau menikah dan mempunyai beberapa orang putra. Empat di antaranya laki-laki, yaitu Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir, dan Ali Akbar.

Dari Pekalongan Sayid Sulaiman berkelana lagi. Kali ini, Solo (Surakarta) menjadi tempat tujuan. Selama tinggal di Solo beliau terkenal sakti. Kesaktiannya yang sudah masyhur itu mengundang rasa iri seorang Raja dari Mataram. Sang Raja ingin membuktikan kesaktian Sayid. Maka diundanglah Sayid ke keraton. Saat itu di istana sedang berlangsung pesta pernikahan putri bungsu sang Raja. Sayid Sulaiman dipanggil menghadap. Untuk memeriahkan pesta pernikahan putri bungsunya ini, Raja meminta agar Sayid memperagakan pertunjukan yang tak pernah diperagakan oleh siapapun. “Sulaiman, anda ini orang sakti. Kalau benar-benar sakti, saya minta tolong buatkan pertunjukan yang tidak umum, yang belum pernah disaksikan oleh orang-orang sini,” pinta Raja Mataram kepada Sayid dengan nada menghina.

Mendengar permintaan Raja yang sinis itu, Sayid meminta pada Raja untuk meletakkan bambu di alas meja, sembari berpesan untuk ditunggu. Sayid Sulaiman lalu pergi ke arah timur. Masyarakat sekitar keraton menunggu kedatangan Sayid demikian lama, namun Sayid belum juga datang. Raja Mataram hilang kesabaran. la marah. la membanting bambu di alas meja itu hingga hancur berkeping-keping. Sesuatu yang ajaib terjadi, kepingan bambu-bambu itu menjelma menjadi hewan yang bermacam-macam. Raja Mataram tersentak melihat keajaiban ini, barulah ia mengakui kesaktian Sayid Sulaiman. Raja Mataram kemudian menitahkan beberapa prajuritnya untuk mencari Sayid Sulaiman. Sedang hewan-hewan jelmaan bambu itu terus dipelihara. Hewan-hewan itu ditampung dalam sebuah kebun binatang yang kemudian diberi nama “Sriwedari”. Artinya, “Sri” adalah tempat, sedangkan “Wedari” adalah “wedar sabdane Sayid Sulaiman”. Kebun binatang itu tetap terpelihara. Tak lama berselang, Sriwedari menjadi sebuah taman dan obyek wisata terkenal peninggalan Mataram. Namun pada tahun 1978, binatang-binatang di Sriwedari dipindah ke kebun binatang Satwataru.

Nyantri di Ampel

Setelah meninggalkan Solo, Mbah Sayid Sulaiman pergi dari Solo ke Surabaya. Untuk sampai ke Surabaya, beliau harus melalui hutan belantara. Tujuan beliau menuju ke Ampel, Surabaya, adalah untuk nyantri kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Kabar keberadaan Sayid Sulaiman akhirnya sampai ke telinga Raja Mataram. Ia mengirim utusan ke Surabaya untuk memanggilnya. Di antara utusan itu ada Sayid Abdurrahim, adik kandung Sayid Sulaiman sendiri. Sesampainya di Ampel, ia sangat terharu bertemu kembali dengan kakaknya tercinta. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Mataram. Ia ingin belajar kepada Sunan Ampel bersama sang kakak.

Pada suatu malam, saat murid-murid Sunan Ampel sudah tertidur pulas, tiba-tiba terdapat dua kilatan sinar menerpa dua orang murid Sunan Ampel yang sedang tidur. Sinar itu berwarna kuning keemasan. Sunan Ampel yang saat itu sedang tidak tidur, menghampiri tempat jatuhnya sinar tadi. Karena keadaan yang gelap, beliau tidak dapat melihat dengan jelas wajah kedua santrinya yang diterpa sinar keemasan ini. Beliau memutuskan untuk mengikat sarung kedua santrinya itu.

Usai salat Subuh, Sunan Ampel bertanya kepada para santrinya, “Siapa yang sarungnya tadi malam terikat?” Mbah Sayid Sulaiman dan Mbah Abdurrahim mengacungkan tangan. Lalu, Sunan Ampel berkata, “Mulai sekarang, santriku jangan manggil Sulaiman, jangan manggil Abdurrahim tok, tapi panggillah Mas Sulaiman dan Mas Abdurrahim!” Panggilan ini menjadi cikal-bakal sebutan “Mas” (semacam “Gus”) oleh santri untuk memanggil keturunan para Masyayikh.

Riwayat belajarnya Sayid Sulaiman kepada Sunan Ampel ini sebenarnya masih sangat disangsikan. Soalnya, terdapat selisih tahun yang terlalu jauh antara masa hidup Sayid Sulaiman dan Sunan Ampel. Sunan Ampel hidup pada 1401-1481 M (abad 14 M), sedangkan Sayid Sulaiman diperkirakan hidup pada abad 17 M, jadi selisih tiga abad (300 tahun) dengan Sunan Ampel. Kemungkinan besar, Sayid Sulaiman belajar di Ampel ini tidak pada Sunan Ampel sendiri, tetapi pada generasi-generasi penerus beliau. Kemungkinan juga cerita di atas terjadi ketika mereka nyantri kepada Habib Sholeh (Mbah Semendi).

Keramat di Pasuruan

Setelah nyantri di Ampel, kakak beradik ini pergi ke Pasuruan untuk nyantri pada Mbah Sholeh Semendi di Segoropuro. (Belakangan diketahui ternyata Mbah Sholeh adalah paman mereka sendiri, saudaranya ibu mereka, Syarifah Khodijah). Setibanya di Pasuruan, setelah mengungkapkan keinginan untuk menuntut ilmu, mereka diajak mandi di sungai Winongan oleh Mbah Sholeh Semendi. Ketika mereka sedang asyik mandi bersama, tiba-tiba Mbah Semendi hilang, tak lama kemudian, muncul lagi. Kejadian ini terulang sampai dua kali. Mbah Sulaiman berfirasat bahwa Mbah Sholeh Semendi bermaksud mencoba kesaktiannya bersama adiknya berdua. Mereka berunding, jika nanti Mbah Sholeh sedang mandi, teklek (bakiak/sandal kayu zaman dahulu) miliknya dipegang bersama-sama agar Mbah Sholeh tidak bisa menghilang. Maka mereka memegang teklek Mbah Sholeh itu dengan mengerahkan segala kemampuan. Demikian pula Mbah Sholeh. Tapi Mbah Sholeh Semendi tidak bisa menghilang. Akhirnya ia tahu bahwa ia tidak bisa menghilang sebab tekleknya dipegang oleh Sayid Sulaiman dan Sayid Abdurrahim, “Eh, eh, jangan begitu. Lepaskan sandal saya!” pinta Mbah Sholeh. Setelah kejadian itu, Mbah Sholeh mengakui akan kesaktian dua bersaudara itu.

Banyak kisah-kisah luar biasa yang terjadi antara Sayid Sulaiman dan Mbah Sholeh. Di antaranya, pada suatu hari, Mbah Sholeh hendak bepergian. Sebelum pergi, beliau berpesan kepada semua santrinya agar halaman dibersihkan selama kepergiannya. Maka saat beliau berangkat pergi, semua santri Mbah Sholeh melaksanakan kerja bakti, Sayid Sulaiman dan Sayid Abdurrahim turut serta bersama mereka. Lagi-lagi Sayid Sulaiman membuat keajaiban. Ia mencabuti pohon-pohon besar hingga bersih total. Setiba dari bepergiannya, Mbah Sholeh kaget melihat pohon-pohon besar yang dicabuti sampai bersih. Setelah tahu bahwa yang mencabuti adalah Sayid Sulaiman, Mbah Sholeh memerintahkan agar pohon-pohon itu dikembalikan seperti semula. Subhanallah, dengan izin Allah, pohon-pohon tersebut dapat dikembalikan lagi oleh Mbah Sayid. Sejak kejadian itu, berita tentang kesaktian Mbah Sayid Sulaiman tersiar dari mulut ke mulut di seluruh penjuru Pasuruan.
Setelah mondok di Mbah Sholeh, Sayid Sulaiman tinggal di Kanigoro, Pasuruan. Sehingga beliau mendapat julukan Pangeran Kanigoro. Saat itu, beliau sempat menjadi penasehat Untung Surapati. Untung Surapati adalah tokoh terkemuka Pasuruan. Ia tercatat sebagai pahlawan yang berjasa mengusir penjajah Belanda dari Nusantara di Pasuruan. Berita tentang kesaktian Sayid Sulaiman juga terdengar oleh Raja Keraton Pasuruan. Raja Pasuruan ini tidak percaya tentang kesaktiannya. Ia sering kali melecehkan kesaktian Mbah Sayid. Sampai suatu ketika Putri Keraton yang sedang berjalan-jalan keliling kota hilang. Kusir dan kereta kuda yang dipakai oleh sang Putri juga ikut raib. Sang Raja menjadi sedih bermuram durja. Diadakanlah sayembara: Bagi yang menemukan sang Putri, akan mendapat hadiah yang amat besar. Tapi malang, tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan sang Putri. Sang Putri seperti lenyap ditelan bumi. Hati Raja semakin bersedih dan putus asa.

Akhirnya, ia meminta bantuan kepada Sayid Sulaiman yang sebelumnya sering ia hina. Di hadapan Sang Raja, Mbah Sulaiman memasukkan tangannya ke dalam saku. Tak berapa lama kemudian, beliau melemparkan sesuatu dari dalam sakunya ke halaman. Luar biasa! Dengan izin Allah, sang Putri muncul bersama kereta dan kusirnya di halaman Keraton. Konon, ia dibawa lari jin ke alam gaib. Melihat putrinya kembali, hati Raja berbunga-bunga. Ia gembira alang-kepalang dan meminta agar Sayid Sulaiman menikahi putrinya itu sebagai tanda ucapan terima kasih atas jasanya. Namun Mbah Sayid menolak. Beliau memilih kembali ke Kanigoro.
Tak lama kemudian, Sayid Sulaiman diambil menantu oleh gurunya yang notabene pamannya sendiri, Mbah Sholeh Semendi. Semula, beliau menolak, tetapi akhirnya beliau menerima permintaan gurunya itu. Beliau menikahi putri Mbah Sholeh yang kedua. Sedangkan adiknya, Mbah Abdurrahim, mempersunting putri Mbah Sholeh yang pertama, kakaknya istri Mbah Sulaiman. Mbah Abdurrahim tinggal di Segoropuro, Pasuruan, sampai meninggal dunia. Orang-orang mengenalnya dengan panggilan Mbah Arif Segoropuro. Sedangkan Mbah Abdul Karim, adik Sayid Sulaiman yang kedua, wafat di Surabaya dan dimakamkan di komplek pemakaman Sunan Ampel. Selain beristri putri Mbah Sholeh, Sayid Sulaiman juga mempunyai istri dari Malang. Dari istrinya dari Malang ini beliau mempunyai putra bernama Hazam. 

Kembali ke Cirebon

Setelah hari pernikahan, Mbah Sulaiman kembali ke Cirebon, Jawa Barat, tempat di mana ia lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama ayah dan ibu tercinta.
Tapi pada saat itu, suasana di Banten dan Cirebon sedang ricuh disebabkan terjadinya pertikaian antara Sultan Agung Tirtayasa dengan putranya sendiri, Sultan Haji, yang terjadi berkisar pada tahun 1681-1683. Maka sejak tahun 1681, Sultan Agung Tirtayasa aktif melakukan penyerangan terhadap putranya ini. Pemicu pertikaian yang berlangsung sampai tiga tahun ini adalah pemihakan Sultan Haji pada Belanda. Melihat hal ini, Mbah Sulaiman memutuskan untuk kembali lagi ke Pasuruan. Beliau kembali menetap di Kanigoro, sebuah dusun di desa Gambir Kuning. Di Gambir Kuning beliau mendirikan dua buah masjid unik. Bahan bangunannya seperti kayu usuk, belandar, ring, dan lain-lain hanya diambilkan dari kayu satu pohon terbesar di hutan Kejayan. Pohon besar itu adalah pemberian dari kepala hutan Kerajaan Untung Surapati Pasuruan. Karena ukuran pohon itu sangat besar, disediakanlah 40 ekor sapi untuk menariknya ke lokasi pembangunan masjid, tapi sapi-sapi itu tidak kuat membawanya. Tapi aneh, keesokan harinya kayu-kayu itu sudah ada di lokasi pembangunan.

Konon, yang mengangkat kayu itu adalah Sayid Sulaiman sendiri. Sampai sekarang masjid ini masih tetap ada. Namun, karena lokasinya yang sempit, masjid itu dipindah agak ke selatan oleh Syekh Rafi’i, cicit Mbah Sulaiman dari cucunya, Ummi Kultsum bin Hazam bin Sulaiman, pada bulan Rabiul Awal 1243 H, hampir dua abad yang lalu. Masjid dengan gaya arsitektur kuno itu, kini telah berusia lebih dari 400 tahun. Sampai kini, bahan-bahan masjid peninggalan Mbah Sulaiman itu masih asli, kecuali lantai dan tiang bagian dalam. Pergi ke Keraton Mataram Kabar kekeramatan Mbah Sayid di Pasuruan terdengar kembali ke Keraton Mataram (Solo). Raja Mataram mengutus salah seorang adipatinya untuk memanggil Mbah Sayid di Pasuruan. Setibanya di Pasuruan, adipati tersebut mengajak Mbah Sayid untuk memenuhi panggilan Raja. Mbah Sayid bermaksud memenuhi panggilan ini. Bersama tiga orang santrinya, Mbah Djailani (Tulangan Sidoarjo), Ahmad Surahim bin Untung Surapati, dan Sayid Hazam, putranya sendiri, beliau berangkat ke Solo.

Di Keraton, Raja Mataram mengumpulkan pembesar-pembesar kerajaan. Ia menyiapkan jamuan besar-besaran yang betul-betul mewah. Namun ada yang terasa janggal di hati Mbah Sayid. Ada tiga keris pusaka yang diletakkan di alas cowek yang ada sambalnya ketika mereka sedang makan bersama-sama. Mbah Sulaiman heran melihat keris di depannya itu. Beliau berbisik kepada santrinya, “Nak, kalian lupa tidak memakan sayur kacang ini. Ayo dimakan, masing-masing satu!),” perintah Mbah Sulaiman. “Oh, iya Mbah,” jawab mereka serempak. Tiga buah keris itupun habis dimakan seperti halnya makan sayur kacang-kacangan. Semua yang hadir terhenyak. “Kalau muridnya saja seperti ini, apalagi gurunya,” gumam mereka kagum.
Setelah acara makan-makan selesai, Raja Mataram Solo berembuk dengan pembesar-pembesarnya untuk mengangkat Mbah Sulaiman menjadi hakim. Namun saat kesepakatan ini disampaikan pada Sayid, beliau menolak, dengan alasan akan meminta pertimbangan dan restu kepada istri dan masyarakatnya yang ada di Pasuruan. Tentu saja, mereka yang di Pasuruan tidak menyetujui. Mereka tidak mau kehilangan tokoh yang disegani ini. Wafatnya Sayid Sulaiman Setiba di Pasuruan, setelah dari Solo untuk mengabarkan penolakan rakyat Pasuruan pada sang Raja, Sayid Sulaiman pamit kepada istrinya yang sedang hamil tua untuk pergi ke Ampel, Surabaya. Lalu meneruskan perjalanannya ke Jombang.

Namun di tengah perjalanan, tepatnya di kampung Betek, Mojoagung, Jombang, beliau jatuh sakit, kemudian wafat dan dimakamkan di sana. Tidak diketahui dengan pasti tahun kewafatannya. Istri Mbah Sulaiman yang sedang hamil tua itu terus menunggu kedatangan sang suami. Yang ditunggu-tunggu ternyata tidak kunjung datang. la memutuskan untuk mencari Mbah Sulaiman. Dari Pasuruan ke Sidoarjo, Surabaya, lalu ke Malang. Akhirnya ia melahirkan di Desa Mendit, dekat pemandian. Namun bayinya langsung meninggal dunia dan dimakamkan di Kampung Woksuru. Istri Mbah Sulaiman ini tetap tidak putus asa. la terus mencari Sayid ke arah selatan, menuju Desa Sawojajar, Malang bagian timur. Tapi malang tak dapat ditolak, ia meninggal dunia sesampainya di desa Grebek.

Menurut versi lain, ketika pergi ke Solo untuk memenuhi panggilan Raja, Mbah Sulaiman tidak sampai ke Solo. Beliau jatuh sakit di tengah perjalanan, tepatnya di kampung Betek, Mojoagung. Selama masa sakitnya, beliau dirawat oleh seorang kiai bernama Mbah Alif, sampai beliau memenuhi panggilan Tuhan. Selama berada di Mojoagung dalam rawatan Mbah Alif, Mbah Sayid Sulaiman berdoa kepada Tuhan, Kalau pertemuannya dengan Raja Solo dianggap baik dan bermanfaat, maka beliau memohon agar dipertemukan. Tetapi jika tidak, maka beliau minta lebih baik wafat di tempat itu. Akhirnya, permintaan yang kedua dikabulkan oleh Allah. Beliau tidak sampai bertemu dengan Raja Mataram, dan wafat di Mojoagung. Adipati yang disuruh menjemput Mbah Sayid, mengirim surat kepada Raja Solo, bahwa dirinya tidak akan kembali ke Solo dan memilih menetap di Mojoagung untuk menjaga makam Mbah Sayid. Sang adipati tetap tinggal di Mojoagung hingga meninggal dunia dan dimakamkan di sana pula.

Turunkan Pewaris Perjuangannya

Hasil jerih payah Mbah Sayid dalam segala usahanya membawa berkah amat besar bagi kehidupan beragama kaum muslimin sampai sekarang. Perjuangannya mendirikan pesantren, melawan dan bergelut dengan tantangan, telah menorehkan napak tilas terciptanya apa yang kini kerap disebut dengan kentalnya moralitas agamis dan budaya pesantren. Beliau berjasa mendirikan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, juga menurunkan pewaris-pewaris perjuangannya. Para pewaris perjuangannya termasuk para ulama pemangku pesantren-pesantren besar, mulai dari Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Sidoresmo dan Pondok Pesantren Al-Muhibbin Surabaya, sampai Pondok Pesantren Syaikhuna Kholil Bangkalan. Dari istri pertamanya di Krapyak Pekalongan, Sayid Sulaiman dikaruniai empat orang putra. Yaitu Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir (makamnya ada di Geluran,Sepanjang, Sidoarjo), dan Ali Akbar. Keturunan Sayid Sulaiman dari jalur Abdul Wahhab, banyak yang tinggal di Magelang dan Pekalongan.

Sedangkan keturunan beliau dari jalur Muhammad Baqir berada di Krapyak Pekalongan. Abdul Wahhab dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan penjajah Portugis dan Belanda. Begitu pula Hasan. Sayid yang masyhur dengan sebutan “Pangeran Agung” ini juga sosok pejuang pembebasan tanah Jawa dari cengkeraman Kompeni Belanda. Melalui jalur Sayid Ali Akbar, banyak terlahir ulama-ulama pemangku pesantren di Jawa Timur. Sebut saja, Sidogiri, Demangan Bangkalan, dan Sidoresmo Surabaya. Sampai kini, makam Sayid Ali Akbar tidak diketahui. Konon, karena kegigihannya menentang penjajah, ia selalu diburu oleh Kompeni Belanda. Suatu ketika, Belanda berhasil menangkap Ali Akbar dan akan dibuang ke Belanda dengan menggunakan kapal. Tapi di tengah pelayaran Sayid Ali Akbar hilang. Anehnya, ia muncul lagi di Sidoresmo. Untuk kedua kalinya beliau ditangkap tentara Kompeni dan dibawa ke Belanda. Tapi seperti semula, beliau menghilang di tengah pelayaran dan kembali ke Sidoresmo. Kemudian, untuk ketiga kalinya beliau ditangkap dan dibawa ke Belanda. Tidak seperti penangkapan sebelumnya, Ali Akbar tidak kembali ke Sidoresmo. Ia terus menghilang. Konon, beliau lari ke Tarim, Hadramaut, kampung para wali di mana kakeknya, Abdurrahman Basyaiban, dilahirkan.

Sayid Ali Akbar meninggalkan enam putra yang kelak menjadi penerus jejak kakeknya, Mbah Sayid Sulaiman. Mereka adalah: 1. Sayid Imam Ghazali (makamnya di Tawunan Pasuruan) 2. Sayid Ibrahim (makamnya di Kota Pasuruan) 3. Sayid Badruddin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan Surabaya) 4. Sayid Iskandar (makamnya di Bungkul Surabaya) 5. Sayid Abdullah (makamnya di Bangkalan Madura) dan 6. Sayid Ali Ashghar (makamnya di Sidoresmo). (belakangan diketahui, bahwa menurut catatan nasab keluarga Sidogiri dan Bangkalan, Sayid Abdullah adalah putra Sayid Sulaiman, bukan cucu Sayid Sulaiman dari Sayid Ali Akbar). Dari Sayid Abdullah, terlahir pewaris-pewaris perjuangan Sayid Sulaiman yang memangku pesantren seperti Sidogiri dan Demangan Bangkalan, yang masing-masing telah memiliki ribuan santri. Sedangkan keturunan Mbah Sayid Sulaiman dari Ali Ashghar di Surabaya telah ‘menguasai’ dua desa, Sidoresmo dan Sidosermo. Sekarang, di dua desa ini terdapat sekitar 28 pondok pesantren. Semuanya diasuh oleh keturunan Sayid Sulaiman. Sayid Ali Ashghar juga menurunkan ulama-ulama pemangku pesantren di Tambak Yosowilangon, Surabaya.

Sedangkan dari istrinya yang kedua, putri Mbah Sholeh Semendi, Sayid Sulaiman mempunyai beberapa putra. Di antaranya kiai Ahmad, Lebak, Winongan, Pasuruan. Dari istrinya yang ketiga di Malang, beliau mempunyai putra Sayid Hazam. Tetapi menurut riwayat lain, Hazam adalah putra Mbah Sulaiman dari istri yang kedua, putri Mbah Sholeh Semendi. Pembabat Sidogiri Konon, Mbah Sayid Sulaiman membabat Sidogiri atas titah dari Sunan Giri. Beliau harus berjuang habis-habisan untuk membabat Sidogiri. Tidak sekadar bekerja keras menebang pohon-pohon Sidogiri yang masih berwujud rimba, tapi juga harus bertarung melawan bangsa Jin, sebab Sidogiri yang saat itu masih sangat angker dan menyeramkan, menjadi sarang makhluk halus dan markas para dedemit (jin). Sayang, beliau keburu mangkat saat melakukan perjalanan ke Jombang, sebelum perjuangannya yang penuh pengorbanan ini berhasil dengan sempurna.

Setelah wafatnya Sayid Sulaiman, tidak ditemukan data yang kuat mengenai pelanjut perjuangan beliau dalam mambabat Sidogiri. Jejak sejarahnya hilang dan baru tercatat sejak periode Kiai Aminullah. Ada dua versi mengenai tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam satu versi, Sidogiri didirikan pada tahun 1745. Dalam catatan lain Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1712. Tahun 1712 adalah tahun paling dekat dengan masa hidup Sayid Sulaiman. Sebab seperti disebutkan sebelumnya, beliau membabat Sidogiri pada usia senjanya. Belum sempurna pembabatan Sidogiri, Sayid Sulaiman keburu meninggal. Sedang beliau hidup pada masa Untung Surapati yang meninggal tahun 1705. Sedangkan tahun 1745 diperkirakan masa hidup Kiai Aminullah. Jadi, kemungkinan besar, usia Pondok Pesantren Sidogiri 268 tahun pada tahun ini (2013) adalah terhitung sejak periode Kiai Aminullah ini. Kiai Aminullah adalah seorang santri yang berasal dari Bawean. Menurut satu riwayat, beliau menikah dengan Nyai Masturah binti Rofi’i bin Umi Kultsum binti Hazam bin Sayid Sulaiman. Bersama Nyai Masturah, Kiai Aminullah menetap di Sidogiri. Namun menurut riwayat yang masyhur di kalangan keluarga Sidogiri berdasarkan catatan silsilah, Kiai Aminullah menikah dengan Nyai Indah binti Sayid Sulaiman. Menurut riwayat ini, Kiai Aminullah adalah menantu langsung Sayid Sulaiman. Kiai Aminullah sendiri adalah figur abid (ahli ibadah) yang senang berkhidmah. Bahkan, sehabis salat Tahajud, beliau istiqamah mengisi jeding masjid-masjid di sekitar Sidogiri. Hal ini terus beliau lakukan sampai empat tahun.

Jumat, 27 Februari 2015

Wisata Alam Sumberboto Jombang

Dulur yang suka kluyuran wisata alam, kini kita ajak jalan jalan  ke kaki gunung Anjasmoro tepatnya sekitar tujuh kilometer dari arah kota Kecamatan Mojoagung, terdapat sebuah monumen dan pemandian bernama Sumberboto, karena terletak di Desa Sumberboto. Di sana terdapat ‘saksi sejarah’ yang, konon, dikabarkan sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit. Dalam perkembangannya, jadilah tempat itu sebagai sarana rekreasi bagi keluarga. Dan ‘income’ pun diraub Pemda Jombang.

Melihat lokasinya yang mudah terjangkau, sekitar tujuh kilometer dari arah Kota Kecamatan Mojoagung, atau sekitar 20 kilometer dari Kota Jombang, Sumberboto sebenarnya memiliki prospek menjanjikan. Jalan setapak menuju ke sana pun cukup representatif. Melihat peta komplit yang ada, sangatlah wajar jika Pemda Jombang menjadikannya sebagai salah satu wisata andalan.

Dalam sehari, sedikitnya puluhan bahkan ratusan wisatawan datang ke lokasi yang, konon kabarnya, merupakan salah satu bukti peninggalan Kerajaan Majapahit itu. Daya tarik bagi pengunjung, selain terdapat dua lokasi pemandian, satu untuk anak-anak dan satu lagi untuk umum, juga dibangun beberapa sarana bermain.

Di sekelilingnya ditumbuhi beragam tanaman rindang nan hijau, yang berfungsi menaungi lokasi wisata. Dan yang tak kalah menariknya, di sekitarnya juga bisa dimanfaatkan sebagai arena perkemahan umum dan pelajar.
Penunjang kunjungan wisata ke Sumber Boto adalah dukungan sarana transportasi yang lumayan baik menuju obyek wisata impian. Saat ini jalan raya menuju Sumber Boto telah diperbaiki dan nyaman dipakai berkendara. Jika perjalanan wisata berangkat dari kota Surabaya, wisatawan harus memilih jalur ke selatan melewati Krian, terminal Mojokerto, perempatan Trowulan (arah menuju Museum Kerajaan Majapahit), dan sub terminal Mojoagung. Ciri khusus subterminal Mojoagung adalah bangunan menara tandon air peninggalan Belanda.

Nah, kalau sudah sampai sub terminal Mojoagung, wisatawan akan dengan mudah mencapai lokasi Sumber Boto. Tepat di perempatan sub terminal Mojoagung, dekat pojok gedung Telkom Mojoagung, terdapat papan penunjuk arah ke Bumi Perkemahan Sumber Boto. Backpacker tinggal ikuti arah tersebut lurus saja. Dari terminal, Anda bisa memilih naik angkutan umum lyn M (warna merah) maupun naik ojek ke Sumber Boto. Jaraknya kurang lebih 3 km akan sampai di desa Sumber Boto. Dari jalan raya tinggal belok kiri menuju arah perkemahan Sumber Boto.

Dua kolam renang yang ada di wisata Sumberboto, sebenarnya cukup representatif bagi sebuah tempat rekreasi. Karena beberapa sarana yang.dibutuhkan tersedia kendati tidak mewah, seperti kamar mandi yang berfungsi untuk membersihkan badan usai berendam di kolam.

Airnya yang bening mengalir deras dari pegunungan sekitar, membuat pemandian ini banyak disukai pengunjung. Sarana tempat bermain untuk anak-anak pun, secara fisik, memang tidak semewah di tempat rekreasi ternama lainnya. Tetapi nyatanya selalu ‘dikerumuni’ pengunjung anak-anak.

Dan, yang tak kalah menariknya adalah tersedianya lokasi parkir yang sangat bagus, lebih dari rasa aman. Berdasarkan data yang masuk, sejak lokasi tersebut dijadikan sebagai tempat wisata umum, tampaknya belum pernah sekalipun terjadi pencurian kenadaraan bermotor milik pengunjung. Dan rupanya hal tersebut lebih disebabkan karena sistem penjagaan yang ekstra ketat dari para petugas yang ditunjuk.

Hunting Duren Wonosalam

Tema jalan-jalan kali ini adalah Hunting Durian, Bagi Anda yang ingin berlibur ke obyek wisata di Kawasan Lereng Gunung Anjasmoro, jangan lupa untuk mampir ke Desa Sumber di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Di desa yang dikenal dengan nama kampung durian ini, Anda bisa menikmati wisata petik buah durian segar langsung dari pohonnya. Uniknya berbeda dengan durian dari daerah lain, buah durian di desa sumber memiliki rasa yang berbeda-beda antara buah yang satu dengan yang lain.

Bahkan tak hanya bisa menikmati buahnya saja, Anda juga bisa belanja bibit durian sekaligus belajar cara membuatnya menghasilkan buah durian yang memiliki rasa berbeda-beda.
 
Setiap musim durian tiba, desa Sumber seolah berubah menjadi desa wisata, karena setiap harinya selalu ada saja wisatawan yang datang. Tak hanya dari daerah sekitar, namun tak sedikit diantaranya yang datang dari luar kota bahkan hingga luar negeri.

Di desa yang berada di kecamatan Wonosalam atau sekira 40 km dari pusat Kota Jombang ini, pengunjung bisa jalan-jalan menikati suasana alam desa Sumber di lereng gunung Anjasmoro yang sejuk, sekaligus menikmati aneka buah durian yang banyak ditanam di setiap halaman rumah warga. Pohon-pohon durian di desa yang dikenal dengan nama Kampung Durian ini tidak terlalu tinggi.
 
Sehingga, jika Anda merasa tertarik, bisa langsung mampir dan memetiknya dengan sangat mudah. Berbeda dengan daerah lain, buah durian di desa sumber tergolong unik karena memiliki varian rasa yang berbeda-beda dengan daging yang tebal siap memanjakan lidah Anda.
 
Adapun varian durian yang ada di kampung tersebut antara lain, durian bidu, durian sus, durian kerikil, durian ketan, durian bawor, dan masih banyak lagi.
 
Hebatnya, perbedaan rasa ini muncul bukan karena disuntik dengan penambah rasa buatan, tetapi alami dari kreatifitas warga mengawinkan bibit durian satu dengan yang lain.
 
Tak hanya menikmati buahnya saja, di tempat ini Anda tak hanya bisa menikmati buahnya saja, tapi juga bisa belanja bibit durian dengan rasa yang kelak anda inginkan.

Anda juga bisa belajar tentang cara mengawinkan buah durian agar memiliki rasa yang berbeda-beda.
 
Salah seorang wisatawan asal Kuala Lumpur, Malaysia dr. Hilmi Bakar, mengakui durian di desa Sumber sangat istimewa, dibandingkan dengan durian asal thailand yang selama ini dinikmati warga Malaysia.

Salah seorang warga pemilik kebun durian, Sulami menuturkan, di musim durian seperti sekarang desanya memang sering dikunjungi wisatawan. Mereka berlibur di rumah-rumah warga yang rasanya berbeda.
 
Tak jarang, apabila harganya cocok, wisatawan langsung memborong buah durian dalam jumlah besar, sehingga stok buah durian warga langsung ludes.