Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2015

Kesenian Besutan, Budaya pembawa pesan

Kabupaten Jombang memiliki kesenian khas yang telah menjadi ikon dari Jombang. Ikon tersebut adalah Besutan. Besutan adalah kesenian tradisional asli Kabupaten Jombang yang merupakan pengembangan dari Kesenian Lerok, dan juga merupakan cikal bakal dari Ludruk. 

Sejarah Besutan

Besutan merupakan salah satu kesenian asli jombang yang sudah ada sejak zaman penjajahan, namun sampai saat ini banyak masyarakat yang tak menegenal Besutan, bahkan warga Jombang sendiri sudah mulai melupakan budaya yang menjadi cikal bakal budaya Ludruk ini.Besutan berasal dari nama tokoh utama kesenian ini, yakni Besut  yang dalam bahasa jawa memiliki arti “mbeto maksud” atau “membawa pesan” dalam bahasa Indonesia. 

Besutan dipentaskan pertama kali oleh Pak Santik, seorang pengamen jalan, petani, serta abdi dalem di kabupaten Jombang pada tahun 1894 - 1897, pak santik berkeliling dari desa ke desa untuk mengamen Besut, hingga akhirnya besutan terkenal di seluruk pelosok daerah Jombang. Setelah Besutan makin populer ditengah masyarakat saat itu, Pak santik mulai mengajak teman – teman senasib yang juga tengah menunggu musim panen untuk bergabung dalam Besutan. Karena anggota pengamen ini masih 2 orang, cerita yang dibawakan oleh pak santik dan kawannya ini tak jauh dari obrolan problem yang sering dihadapi oleh masyarakat, seperti perbincangan antar laki – laki atau perempuan, kehidupan rumah tangga, dan kisah cinta sepasang kekasih. Di setiap pementasan pak santik selalu mendandani temannya ini dengan riasan wanita. Setelah anggota pengamen pak Santik semakin bertambah, dan memungkinkan untuk membuat alur cerita yang lebih kompleks, akhirnya rombongan pengamen Besut yang digawangi pak Santik mengamen dengan pementasan utuh, dengan lakon Besutan.

Tokoh – tokoh dalam Besutan

Dalam setiap pementasan Besutan selalu ada 4 tokoh yang menjadi pemain utama, yaitu :
1.     Besut
Tokoh Besut merupakan sosok laki – laki yang cerdas, kritis, terbuka dan memilliki jiwa seni.
2.     Rusmini
Gadis cantik yang menjadi kekasih hati Besut, dan tinggal bersama pamannya. Namun kisah cintanya dengan Besut selalu dihalang – halangi oleh Sumo Gambar.
3.     Sumo Gambar
Tokoh Sumo Gambar selalu berperan antagonis, di lukiskan sebagai seorang laki – laki yang berupa buruk, namun memiliki kekayaan yang berlimpah. Sumo Gambar mencintai Rusmini, namun cintanya selalu bertepuk sebelah tangan, karena Rusmini hanya mencintai Besut.
4.     Man Gondo
Paman Rusmini yang selalu berpihak pada Sumo Gambar, karena Sumo Gambar lebih kaya daripada Besut.

Ke – 4 tokoh inilah yang selalu muncul dalam setiap pementasan besutan, tokoh tokoh lain dapat muncul sesuai dengan kebutuhan, atau sesuai dengan alur cerita. Di setiap pementasan Besutan pasti memiliki alur dan tema yang berbeda, namun tetap akan ada jalan cerita dimana terjadi cinta segitiga antara Besut, Rusmini dan Sumo Gambar.

Ritual Pembukaan Pementasan Besutan

Besutan membawa beberapa pesan moral dan kritikal pada penjajah yang saat itu menduduki Indonesia yang menjadikan rakyat Indonesia bodoh dan miskin.  Karakter Besut juga merupakan gambaran dari perjuangan melawan bangsa penjajah yang menduduki tanah air.

Pada setiap pementasan Besutan, akan selalu ada sebuah ritual yang berfungsi  sebagai pembuka pementasan dan juga sebagai lambang perjuangan rakyat indonesia, yakni karakter Besut yang berjalan memasuki panggung dengan mata terpejam yang memiliki arti bangsa indonesia tak boleh terlalu banyak tahu, mulutnya tersumbat susur (semacam daun sirih) yang melambangkan bahwa rakyat indonesia dilarang untuk berpendapat, dan berjalan dengan merayap mengikuti kemana obor yang dibawa oleh pemain lain bergerak. Hingga pada satu kesempatan, besut akan melompat dan menyemburkan susur didalam mulutnya menuju obor, hingga obor  tersebut padam. Setelah obor padam, Besut langsung membuka matanya, dan mulutnya terbebas dari susur dan ia pun langsung menari dengan sangat bersemangat. Setelah besut seleai menari, ia akan melantunkan Kidungan (pantun jawa) khas Jombang. Setelah itu baru pementasan besut masuk kedalam lakon yang diangkat.

Dalam ritual pembukaan ini, tokoh Besut menggunakan kostum yang sangat sederhana, yaitu kain putih yang dililitkan ditubuhnya yang melambangkan kebersihan jiwa dan raga, dan sebuah tali lawe yang melilit diperutnya yang melambangkan kesatuan, dan tutup kepala berwarna merah yang melambangkan keberanian. Sedangkan tokoh Rusmini, mengenakan kostum busana khas kabupaten Jombang yaitu , kain jarik, kebaya dan kerudung lepas. Man Gondo menggunakan busana khas jawa timuran dan Sumo Gambar menggunakan kostum khas masyarakat Madura.


Demikianlah, sedikit informasi tentang Besutan, budaya asli Jombang yang hampir terlupakan karena tergerus zaman dan arus globalisasi yang semakin kebarat – baratan dan modern, semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca. Matur Nuhun..

Jumat, 20 Maret 2015

mBah Sayid Sulaiman Mojoagung

Banyak wisata Religi di daerah Jombang, dimana kota ini telah lama terkenal dengan julukan kota santri, setidaknya ada Lima pondok pesantren besar di Jombang yang terkenal seperti Ponpes Tebuireng di Cukir Diwek, Ponpes Darul Ulum di Rejoso Peterongan, Ponpes Bahrul Ulum di Tambakberas, Ponpes Mambaul Maarif di Denanyar dan Ponpes Luhur Nurhasab di Gadingmangu Perak.

Kelenteng Hong San Kion di Gudo, juga sering dikunjungi wisatawan sebagai wisata religi di Jombang, Selain dikenal sebagai tempat ibadah Tridarma (Agama Taoisme, Budha, dan Konghucu) juga sebagai tempat berobat. Menariknya yang datang untuk berobat juga banyak yang dari kalangan pribumi. Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, kelenteng ini mengadakan acara hajatan yang cukup meriah, seperti Wayang Potehi maupun Pagelaran Barongsay.

Begitu Juga Gereja Mojowarno merupakan gereja tertua di kawasan, serta dulunya pernah menjadi pusat salah satu aliran Kristen Protestan pada zaman Belanda. Setiap setahun sekali, gereja ini mengadakan upacara kebetan dan unduh-unduh, yang sarat akan kultur lokal.

Kali ini kita bergeser ke arah timur jombang kecamatan Mojoagung, disitu terdapat wisata religi yang tidak pernah sepi pengunjung. tepatnya di perbatasan desa mancilan-Betek Mojoangung terdapat makam mbah Sayid Sulaiman yang sering dikunjungi para peziarah. Dan rasanya kurang pas kalau berziarah tanpa tau sejarah mbah Sayid, berikut adalah biografi Mbah Sayid Sulaiman.

Biografi Sayid Sulaiman Betek Mojoagung Jombang

Sekitar pertengahan abad ke-16 Masehi tersebutlah seorang pemuda gagah berdarah Arab di tepi barat pulau Jawa, Cirebon. Selama beberapa bulan ia berlayar dari kampung halamannya di negara Yaman. Saat itu memang sedang gencar-gencarnya orang-orang Arab berimigrasi ke tanah Jawa. Dan salah satunya adalah kakek Mbah Sayid Sulaiman, tokoh yang disebut di awal tulisan ini.

Orang-orang Arab ini datang dengan maksud bermacam-macam. Ada yang berdakwah untuk menyebarkan agama Islam, ada pula yang berniaga seraya berdakwah. Pemuda itu bernama Abdurrahman. Ia adalah seorang Sayid keturunan Rasulullah yang bergelar Basyaiban. Basyaiban adalah gelar warga habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, seorang ulama terkemuka di Tarim, Hadramaut, yang terkenal alim dan sakti. Sayid Abu Bakar mendapat julukan Syaiban (yang beruban) karena ada kisah unik dibalik julukannya itu.

Suatu ketika, Sayid Abu Bakar yang saat itu masih tergolong muda menghilang. Sejak itu ia tidak muncul-muncul. Konon, ia uzlah untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Baru setelah sekitar tiga puluh tahun, Sayid Abu Bakar muncul di Tarim. Ia tetap tampak muda. Tapi aneh, rambutnya putih, tak selembar pun yang hitam. Ia seperti berambut salju. Sejak itulah orang-orang menjulukinya Syaiban (yang beruban). Abdurrahman masih tergolong cicit dari Sayid Abu Bakar Basyaiban. Ia putra sulung Sayid Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban. Lahir pada abad 16 Masehi di Tarim, Yaman bagian selatan, perkampungan sejuk di Hadramaut yang masyhur sebagai gudang para wali.

Dalam masa perantauannya ke Nusantara, tepatnya di Pulau Jawa, Sayid Abdurrahman memilih bertempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian, ia mempersunting putri Maulana Sultan Hasanuddin (?-1570 M). Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia bernama Syarifah Khadijah, cucu Raden Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari pasangan dua keturunan Rasulullah ini, lahir tiga orang putra: Sayid Sulaiman, Sayid Abdurrahim (terkenal dengan sebutan Mbah Arif Segoropuro Pasuruan), dan Sayid Abdul Karim. Mewarisi ketekunan leluhurnya dalam berdakwah, keluarga ini berjuang keras menyebarkan Islam di Jawa, tak jauh dengan apa yang telah dilakukan oleh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati, di Cirebon.

Pengaruh dan ketekunan mereka dalam berdakwah membuat penjajah Belanda khawatir. Maka ketika menginjak dewasa, Sayid Sulaiman dibuang oleh mereka. Putra sulung Sayid Abdurrahman ini, kemudian tinggal di Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah. Di Pekalongan, beliau menikah dan mempunyai beberapa orang putra. Empat di antaranya laki-laki, yaitu Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir, dan Ali Akbar.

Dari Pekalongan Sayid Sulaiman berkelana lagi. Kali ini, Solo (Surakarta) menjadi tempat tujuan. Selama tinggal di Solo beliau terkenal sakti. Kesaktiannya yang sudah masyhur itu mengundang rasa iri seorang Raja dari Mataram. Sang Raja ingin membuktikan kesaktian Sayid. Maka diundanglah Sayid ke keraton. Saat itu di istana sedang berlangsung pesta pernikahan putri bungsu sang Raja. Sayid Sulaiman dipanggil menghadap. Untuk memeriahkan pesta pernikahan putri bungsunya ini, Raja meminta agar Sayid memperagakan pertunjukan yang tak pernah diperagakan oleh siapapun. “Sulaiman, anda ini orang sakti. Kalau benar-benar sakti, saya minta tolong buatkan pertunjukan yang tidak umum, yang belum pernah disaksikan oleh orang-orang sini,” pinta Raja Mataram kepada Sayid dengan nada menghina.

Mendengar permintaan Raja yang sinis itu, Sayid meminta pada Raja untuk meletakkan bambu di alas meja, sembari berpesan untuk ditunggu. Sayid Sulaiman lalu pergi ke arah timur. Masyarakat sekitar keraton menunggu kedatangan Sayid demikian lama, namun Sayid belum juga datang. Raja Mataram hilang kesabaran. la marah. la membanting bambu di alas meja itu hingga hancur berkeping-keping. Sesuatu yang ajaib terjadi, kepingan bambu-bambu itu menjelma menjadi hewan yang bermacam-macam. Raja Mataram tersentak melihat keajaiban ini, barulah ia mengakui kesaktian Sayid Sulaiman. Raja Mataram kemudian menitahkan beberapa prajuritnya untuk mencari Sayid Sulaiman. Sedang hewan-hewan jelmaan bambu itu terus dipelihara. Hewan-hewan itu ditampung dalam sebuah kebun binatang yang kemudian diberi nama “Sriwedari”. Artinya, “Sri” adalah tempat, sedangkan “Wedari” adalah “wedar sabdane Sayid Sulaiman”. Kebun binatang itu tetap terpelihara. Tak lama berselang, Sriwedari menjadi sebuah taman dan obyek wisata terkenal peninggalan Mataram. Namun pada tahun 1978, binatang-binatang di Sriwedari dipindah ke kebun binatang Satwataru.

Nyantri di Ampel

Setelah meninggalkan Solo, Mbah Sayid Sulaiman pergi dari Solo ke Surabaya. Untuk sampai ke Surabaya, beliau harus melalui hutan belantara. Tujuan beliau menuju ke Ampel, Surabaya, adalah untuk nyantri kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Kabar keberadaan Sayid Sulaiman akhirnya sampai ke telinga Raja Mataram. Ia mengirim utusan ke Surabaya untuk memanggilnya. Di antara utusan itu ada Sayid Abdurrahim, adik kandung Sayid Sulaiman sendiri. Sesampainya di Ampel, ia sangat terharu bertemu kembali dengan kakaknya tercinta. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Mataram. Ia ingin belajar kepada Sunan Ampel bersama sang kakak.

Pada suatu malam, saat murid-murid Sunan Ampel sudah tertidur pulas, tiba-tiba terdapat dua kilatan sinar menerpa dua orang murid Sunan Ampel yang sedang tidur. Sinar itu berwarna kuning keemasan. Sunan Ampel yang saat itu sedang tidak tidur, menghampiri tempat jatuhnya sinar tadi. Karena keadaan yang gelap, beliau tidak dapat melihat dengan jelas wajah kedua santrinya yang diterpa sinar keemasan ini. Beliau memutuskan untuk mengikat sarung kedua santrinya itu.

Usai salat Subuh, Sunan Ampel bertanya kepada para santrinya, “Siapa yang sarungnya tadi malam terikat?” Mbah Sayid Sulaiman dan Mbah Abdurrahim mengacungkan tangan. Lalu, Sunan Ampel berkata, “Mulai sekarang, santriku jangan manggil Sulaiman, jangan manggil Abdurrahim tok, tapi panggillah Mas Sulaiman dan Mas Abdurrahim!” Panggilan ini menjadi cikal-bakal sebutan “Mas” (semacam “Gus”) oleh santri untuk memanggil keturunan para Masyayikh.

Riwayat belajarnya Sayid Sulaiman kepada Sunan Ampel ini sebenarnya masih sangat disangsikan. Soalnya, terdapat selisih tahun yang terlalu jauh antara masa hidup Sayid Sulaiman dan Sunan Ampel. Sunan Ampel hidup pada 1401-1481 M (abad 14 M), sedangkan Sayid Sulaiman diperkirakan hidup pada abad 17 M, jadi selisih tiga abad (300 tahun) dengan Sunan Ampel. Kemungkinan besar, Sayid Sulaiman belajar di Ampel ini tidak pada Sunan Ampel sendiri, tetapi pada generasi-generasi penerus beliau. Kemungkinan juga cerita di atas terjadi ketika mereka nyantri kepada Habib Sholeh (Mbah Semendi).

Keramat di Pasuruan

Setelah nyantri di Ampel, kakak beradik ini pergi ke Pasuruan untuk nyantri pada Mbah Sholeh Semendi di Segoropuro. (Belakangan diketahui ternyata Mbah Sholeh adalah paman mereka sendiri, saudaranya ibu mereka, Syarifah Khodijah). Setibanya di Pasuruan, setelah mengungkapkan keinginan untuk menuntut ilmu, mereka diajak mandi di sungai Winongan oleh Mbah Sholeh Semendi. Ketika mereka sedang asyik mandi bersama, tiba-tiba Mbah Semendi hilang, tak lama kemudian, muncul lagi. Kejadian ini terulang sampai dua kali. Mbah Sulaiman berfirasat bahwa Mbah Sholeh Semendi bermaksud mencoba kesaktiannya bersama adiknya berdua. Mereka berunding, jika nanti Mbah Sholeh sedang mandi, teklek (bakiak/sandal kayu zaman dahulu) miliknya dipegang bersama-sama agar Mbah Sholeh tidak bisa menghilang. Maka mereka memegang teklek Mbah Sholeh itu dengan mengerahkan segala kemampuan. Demikian pula Mbah Sholeh. Tapi Mbah Sholeh Semendi tidak bisa menghilang. Akhirnya ia tahu bahwa ia tidak bisa menghilang sebab tekleknya dipegang oleh Sayid Sulaiman dan Sayid Abdurrahim, “Eh, eh, jangan begitu. Lepaskan sandal saya!” pinta Mbah Sholeh. Setelah kejadian itu, Mbah Sholeh mengakui akan kesaktian dua bersaudara itu.

Banyak kisah-kisah luar biasa yang terjadi antara Sayid Sulaiman dan Mbah Sholeh. Di antaranya, pada suatu hari, Mbah Sholeh hendak bepergian. Sebelum pergi, beliau berpesan kepada semua santrinya agar halaman dibersihkan selama kepergiannya. Maka saat beliau berangkat pergi, semua santri Mbah Sholeh melaksanakan kerja bakti, Sayid Sulaiman dan Sayid Abdurrahim turut serta bersama mereka. Lagi-lagi Sayid Sulaiman membuat keajaiban. Ia mencabuti pohon-pohon besar hingga bersih total. Setiba dari bepergiannya, Mbah Sholeh kaget melihat pohon-pohon besar yang dicabuti sampai bersih. Setelah tahu bahwa yang mencabuti adalah Sayid Sulaiman, Mbah Sholeh memerintahkan agar pohon-pohon itu dikembalikan seperti semula. Subhanallah, dengan izin Allah, pohon-pohon tersebut dapat dikembalikan lagi oleh Mbah Sayid. Sejak kejadian itu, berita tentang kesaktian Mbah Sayid Sulaiman tersiar dari mulut ke mulut di seluruh penjuru Pasuruan.
Setelah mondok di Mbah Sholeh, Sayid Sulaiman tinggal di Kanigoro, Pasuruan. Sehingga beliau mendapat julukan Pangeran Kanigoro. Saat itu, beliau sempat menjadi penasehat Untung Surapati. Untung Surapati adalah tokoh terkemuka Pasuruan. Ia tercatat sebagai pahlawan yang berjasa mengusir penjajah Belanda dari Nusantara di Pasuruan. Berita tentang kesaktian Sayid Sulaiman juga terdengar oleh Raja Keraton Pasuruan. Raja Pasuruan ini tidak percaya tentang kesaktiannya. Ia sering kali melecehkan kesaktian Mbah Sayid. Sampai suatu ketika Putri Keraton yang sedang berjalan-jalan keliling kota hilang. Kusir dan kereta kuda yang dipakai oleh sang Putri juga ikut raib. Sang Raja menjadi sedih bermuram durja. Diadakanlah sayembara: Bagi yang menemukan sang Putri, akan mendapat hadiah yang amat besar. Tapi malang, tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan sang Putri. Sang Putri seperti lenyap ditelan bumi. Hati Raja semakin bersedih dan putus asa.

Akhirnya, ia meminta bantuan kepada Sayid Sulaiman yang sebelumnya sering ia hina. Di hadapan Sang Raja, Mbah Sulaiman memasukkan tangannya ke dalam saku. Tak berapa lama kemudian, beliau melemparkan sesuatu dari dalam sakunya ke halaman. Luar biasa! Dengan izin Allah, sang Putri muncul bersama kereta dan kusirnya di halaman Keraton. Konon, ia dibawa lari jin ke alam gaib. Melihat putrinya kembali, hati Raja berbunga-bunga. Ia gembira alang-kepalang dan meminta agar Sayid Sulaiman menikahi putrinya itu sebagai tanda ucapan terima kasih atas jasanya. Namun Mbah Sayid menolak. Beliau memilih kembali ke Kanigoro.
Tak lama kemudian, Sayid Sulaiman diambil menantu oleh gurunya yang notabene pamannya sendiri, Mbah Sholeh Semendi. Semula, beliau menolak, tetapi akhirnya beliau menerima permintaan gurunya itu. Beliau menikahi putri Mbah Sholeh yang kedua. Sedangkan adiknya, Mbah Abdurrahim, mempersunting putri Mbah Sholeh yang pertama, kakaknya istri Mbah Sulaiman. Mbah Abdurrahim tinggal di Segoropuro, Pasuruan, sampai meninggal dunia. Orang-orang mengenalnya dengan panggilan Mbah Arif Segoropuro. Sedangkan Mbah Abdul Karim, adik Sayid Sulaiman yang kedua, wafat di Surabaya dan dimakamkan di komplek pemakaman Sunan Ampel. Selain beristri putri Mbah Sholeh, Sayid Sulaiman juga mempunyai istri dari Malang. Dari istrinya dari Malang ini beliau mempunyai putra bernama Hazam. 

Kembali ke Cirebon

Setelah hari pernikahan, Mbah Sulaiman kembali ke Cirebon, Jawa Barat, tempat di mana ia lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama ayah dan ibu tercinta.
Tapi pada saat itu, suasana di Banten dan Cirebon sedang ricuh disebabkan terjadinya pertikaian antara Sultan Agung Tirtayasa dengan putranya sendiri, Sultan Haji, yang terjadi berkisar pada tahun 1681-1683. Maka sejak tahun 1681, Sultan Agung Tirtayasa aktif melakukan penyerangan terhadap putranya ini. Pemicu pertikaian yang berlangsung sampai tiga tahun ini adalah pemihakan Sultan Haji pada Belanda. Melihat hal ini, Mbah Sulaiman memutuskan untuk kembali lagi ke Pasuruan. Beliau kembali menetap di Kanigoro, sebuah dusun di desa Gambir Kuning. Di Gambir Kuning beliau mendirikan dua buah masjid unik. Bahan bangunannya seperti kayu usuk, belandar, ring, dan lain-lain hanya diambilkan dari kayu satu pohon terbesar di hutan Kejayan. Pohon besar itu adalah pemberian dari kepala hutan Kerajaan Untung Surapati Pasuruan. Karena ukuran pohon itu sangat besar, disediakanlah 40 ekor sapi untuk menariknya ke lokasi pembangunan masjid, tapi sapi-sapi itu tidak kuat membawanya. Tapi aneh, keesokan harinya kayu-kayu itu sudah ada di lokasi pembangunan.

Konon, yang mengangkat kayu itu adalah Sayid Sulaiman sendiri. Sampai sekarang masjid ini masih tetap ada. Namun, karena lokasinya yang sempit, masjid itu dipindah agak ke selatan oleh Syekh Rafi’i, cicit Mbah Sulaiman dari cucunya, Ummi Kultsum bin Hazam bin Sulaiman, pada bulan Rabiul Awal 1243 H, hampir dua abad yang lalu. Masjid dengan gaya arsitektur kuno itu, kini telah berusia lebih dari 400 tahun. Sampai kini, bahan-bahan masjid peninggalan Mbah Sulaiman itu masih asli, kecuali lantai dan tiang bagian dalam. Pergi ke Keraton Mataram Kabar kekeramatan Mbah Sayid di Pasuruan terdengar kembali ke Keraton Mataram (Solo). Raja Mataram mengutus salah seorang adipatinya untuk memanggil Mbah Sayid di Pasuruan. Setibanya di Pasuruan, adipati tersebut mengajak Mbah Sayid untuk memenuhi panggilan Raja. Mbah Sayid bermaksud memenuhi panggilan ini. Bersama tiga orang santrinya, Mbah Djailani (Tulangan Sidoarjo), Ahmad Surahim bin Untung Surapati, dan Sayid Hazam, putranya sendiri, beliau berangkat ke Solo.

Di Keraton, Raja Mataram mengumpulkan pembesar-pembesar kerajaan. Ia menyiapkan jamuan besar-besaran yang betul-betul mewah. Namun ada yang terasa janggal di hati Mbah Sayid. Ada tiga keris pusaka yang diletakkan di alas cowek yang ada sambalnya ketika mereka sedang makan bersama-sama. Mbah Sulaiman heran melihat keris di depannya itu. Beliau berbisik kepada santrinya, “Nak, kalian lupa tidak memakan sayur kacang ini. Ayo dimakan, masing-masing satu!),” perintah Mbah Sulaiman. “Oh, iya Mbah,” jawab mereka serempak. Tiga buah keris itupun habis dimakan seperti halnya makan sayur kacang-kacangan. Semua yang hadir terhenyak. “Kalau muridnya saja seperti ini, apalagi gurunya,” gumam mereka kagum.
Setelah acara makan-makan selesai, Raja Mataram Solo berembuk dengan pembesar-pembesarnya untuk mengangkat Mbah Sulaiman menjadi hakim. Namun saat kesepakatan ini disampaikan pada Sayid, beliau menolak, dengan alasan akan meminta pertimbangan dan restu kepada istri dan masyarakatnya yang ada di Pasuruan. Tentu saja, mereka yang di Pasuruan tidak menyetujui. Mereka tidak mau kehilangan tokoh yang disegani ini. Wafatnya Sayid Sulaiman Setiba di Pasuruan, setelah dari Solo untuk mengabarkan penolakan rakyat Pasuruan pada sang Raja, Sayid Sulaiman pamit kepada istrinya yang sedang hamil tua untuk pergi ke Ampel, Surabaya. Lalu meneruskan perjalanannya ke Jombang.

Namun di tengah perjalanan, tepatnya di kampung Betek, Mojoagung, Jombang, beliau jatuh sakit, kemudian wafat dan dimakamkan di sana. Tidak diketahui dengan pasti tahun kewafatannya. Istri Mbah Sulaiman yang sedang hamil tua itu terus menunggu kedatangan sang suami. Yang ditunggu-tunggu ternyata tidak kunjung datang. la memutuskan untuk mencari Mbah Sulaiman. Dari Pasuruan ke Sidoarjo, Surabaya, lalu ke Malang. Akhirnya ia melahirkan di Desa Mendit, dekat pemandian. Namun bayinya langsung meninggal dunia dan dimakamkan di Kampung Woksuru. Istri Mbah Sulaiman ini tetap tidak putus asa. la terus mencari Sayid ke arah selatan, menuju Desa Sawojajar, Malang bagian timur. Tapi malang tak dapat ditolak, ia meninggal dunia sesampainya di desa Grebek.

Menurut versi lain, ketika pergi ke Solo untuk memenuhi panggilan Raja, Mbah Sulaiman tidak sampai ke Solo. Beliau jatuh sakit di tengah perjalanan, tepatnya di kampung Betek, Mojoagung. Selama masa sakitnya, beliau dirawat oleh seorang kiai bernama Mbah Alif, sampai beliau memenuhi panggilan Tuhan. Selama berada di Mojoagung dalam rawatan Mbah Alif, Mbah Sayid Sulaiman berdoa kepada Tuhan, Kalau pertemuannya dengan Raja Solo dianggap baik dan bermanfaat, maka beliau memohon agar dipertemukan. Tetapi jika tidak, maka beliau minta lebih baik wafat di tempat itu. Akhirnya, permintaan yang kedua dikabulkan oleh Allah. Beliau tidak sampai bertemu dengan Raja Mataram, dan wafat di Mojoagung. Adipati yang disuruh menjemput Mbah Sayid, mengirim surat kepada Raja Solo, bahwa dirinya tidak akan kembali ke Solo dan memilih menetap di Mojoagung untuk menjaga makam Mbah Sayid. Sang adipati tetap tinggal di Mojoagung hingga meninggal dunia dan dimakamkan di sana pula.

Turunkan Pewaris Perjuangannya

Hasil jerih payah Mbah Sayid dalam segala usahanya membawa berkah amat besar bagi kehidupan beragama kaum muslimin sampai sekarang. Perjuangannya mendirikan pesantren, melawan dan bergelut dengan tantangan, telah menorehkan napak tilas terciptanya apa yang kini kerap disebut dengan kentalnya moralitas agamis dan budaya pesantren. Beliau berjasa mendirikan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, juga menurunkan pewaris-pewaris perjuangannya. Para pewaris perjuangannya termasuk para ulama pemangku pesantren-pesantren besar, mulai dari Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Sidoresmo dan Pondok Pesantren Al-Muhibbin Surabaya, sampai Pondok Pesantren Syaikhuna Kholil Bangkalan. Dari istri pertamanya di Krapyak Pekalongan, Sayid Sulaiman dikaruniai empat orang putra. Yaitu Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir (makamnya ada di Geluran,Sepanjang, Sidoarjo), dan Ali Akbar. Keturunan Sayid Sulaiman dari jalur Abdul Wahhab, banyak yang tinggal di Magelang dan Pekalongan.

Sedangkan keturunan beliau dari jalur Muhammad Baqir berada di Krapyak Pekalongan. Abdul Wahhab dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan penjajah Portugis dan Belanda. Begitu pula Hasan. Sayid yang masyhur dengan sebutan “Pangeran Agung” ini juga sosok pejuang pembebasan tanah Jawa dari cengkeraman Kompeni Belanda. Melalui jalur Sayid Ali Akbar, banyak terlahir ulama-ulama pemangku pesantren di Jawa Timur. Sebut saja, Sidogiri, Demangan Bangkalan, dan Sidoresmo Surabaya. Sampai kini, makam Sayid Ali Akbar tidak diketahui. Konon, karena kegigihannya menentang penjajah, ia selalu diburu oleh Kompeni Belanda. Suatu ketika, Belanda berhasil menangkap Ali Akbar dan akan dibuang ke Belanda dengan menggunakan kapal. Tapi di tengah pelayaran Sayid Ali Akbar hilang. Anehnya, ia muncul lagi di Sidoresmo. Untuk kedua kalinya beliau ditangkap tentara Kompeni dan dibawa ke Belanda. Tapi seperti semula, beliau menghilang di tengah pelayaran dan kembali ke Sidoresmo. Kemudian, untuk ketiga kalinya beliau ditangkap dan dibawa ke Belanda. Tidak seperti penangkapan sebelumnya, Ali Akbar tidak kembali ke Sidoresmo. Ia terus menghilang. Konon, beliau lari ke Tarim, Hadramaut, kampung para wali di mana kakeknya, Abdurrahman Basyaiban, dilahirkan.

Sayid Ali Akbar meninggalkan enam putra yang kelak menjadi penerus jejak kakeknya, Mbah Sayid Sulaiman. Mereka adalah: 1. Sayid Imam Ghazali (makamnya di Tawunan Pasuruan) 2. Sayid Ibrahim (makamnya di Kota Pasuruan) 3. Sayid Badruddin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan Surabaya) 4. Sayid Iskandar (makamnya di Bungkul Surabaya) 5. Sayid Abdullah (makamnya di Bangkalan Madura) dan 6. Sayid Ali Ashghar (makamnya di Sidoresmo). (belakangan diketahui, bahwa menurut catatan nasab keluarga Sidogiri dan Bangkalan, Sayid Abdullah adalah putra Sayid Sulaiman, bukan cucu Sayid Sulaiman dari Sayid Ali Akbar). Dari Sayid Abdullah, terlahir pewaris-pewaris perjuangan Sayid Sulaiman yang memangku pesantren seperti Sidogiri dan Demangan Bangkalan, yang masing-masing telah memiliki ribuan santri. Sedangkan keturunan Mbah Sayid Sulaiman dari Ali Ashghar di Surabaya telah ‘menguasai’ dua desa, Sidoresmo dan Sidosermo. Sekarang, di dua desa ini terdapat sekitar 28 pondok pesantren. Semuanya diasuh oleh keturunan Sayid Sulaiman. Sayid Ali Ashghar juga menurunkan ulama-ulama pemangku pesantren di Tambak Yosowilangon, Surabaya.

Sedangkan dari istrinya yang kedua, putri Mbah Sholeh Semendi, Sayid Sulaiman mempunyai beberapa putra. Di antaranya kiai Ahmad, Lebak, Winongan, Pasuruan. Dari istrinya yang ketiga di Malang, beliau mempunyai putra Sayid Hazam. Tetapi menurut riwayat lain, Hazam adalah putra Mbah Sulaiman dari istri yang kedua, putri Mbah Sholeh Semendi. Pembabat Sidogiri Konon, Mbah Sayid Sulaiman membabat Sidogiri atas titah dari Sunan Giri. Beliau harus berjuang habis-habisan untuk membabat Sidogiri. Tidak sekadar bekerja keras menebang pohon-pohon Sidogiri yang masih berwujud rimba, tapi juga harus bertarung melawan bangsa Jin, sebab Sidogiri yang saat itu masih sangat angker dan menyeramkan, menjadi sarang makhluk halus dan markas para dedemit (jin). Sayang, beliau keburu mangkat saat melakukan perjalanan ke Jombang, sebelum perjuangannya yang penuh pengorbanan ini berhasil dengan sempurna.

Setelah wafatnya Sayid Sulaiman, tidak ditemukan data yang kuat mengenai pelanjut perjuangan beliau dalam mambabat Sidogiri. Jejak sejarahnya hilang dan baru tercatat sejak periode Kiai Aminullah. Ada dua versi mengenai tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam satu versi, Sidogiri didirikan pada tahun 1745. Dalam catatan lain Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1712. Tahun 1712 adalah tahun paling dekat dengan masa hidup Sayid Sulaiman. Sebab seperti disebutkan sebelumnya, beliau membabat Sidogiri pada usia senjanya. Belum sempurna pembabatan Sidogiri, Sayid Sulaiman keburu meninggal. Sedang beliau hidup pada masa Untung Surapati yang meninggal tahun 1705. Sedangkan tahun 1745 diperkirakan masa hidup Kiai Aminullah. Jadi, kemungkinan besar, usia Pondok Pesantren Sidogiri 268 tahun pada tahun ini (2013) adalah terhitung sejak periode Kiai Aminullah ini. Kiai Aminullah adalah seorang santri yang berasal dari Bawean. Menurut satu riwayat, beliau menikah dengan Nyai Masturah binti Rofi’i bin Umi Kultsum binti Hazam bin Sayid Sulaiman. Bersama Nyai Masturah, Kiai Aminullah menetap di Sidogiri. Namun menurut riwayat yang masyhur di kalangan keluarga Sidogiri berdasarkan catatan silsilah, Kiai Aminullah menikah dengan Nyai Indah binti Sayid Sulaiman. Menurut riwayat ini, Kiai Aminullah adalah menantu langsung Sayid Sulaiman. Kiai Aminullah sendiri adalah figur abid (ahli ibadah) yang senang berkhidmah. Bahkan, sehabis salat Tahajud, beliau istiqamah mengisi jeding masjid-masjid di sekitar Sidogiri. Hal ini terus beliau lakukan sampai empat tahun.

Rabu, 11 Maret 2015

Sekilas Cerita di Operet SMADA88 Jombang

Operet Smada88 gabungan dari teman2 yg ingin meng-apresiasikan gerak lagu dlm bentuk drama komedi, dibintangi oleh : mbak Yanti,cak  Wahyudi Heru,mbak Peggy, mbak Desi, mbak Reri,cak Sony, cak Bowo, mbak Emi, cak Arif, cak yuli, cak Andik,yg disutradarai oleh mbak Teta dan saya sendiri........ 

sudah beberapa yang sudah kita pentaskan, yaitu :Operet yg berjudul Ande2 Lumut dan Pronocitro Roro Mendut....... tidak disangka ternyata Operet kita banyak penggemarnya dan sesekali kita manggung di berbagai acara diluar sekolah,misal acara Hari Pendi-
dikan, Pentas Seni, bahkan di acara Pernikahan.... Wow..!!

Ada Cerita Lucu disaat kita tampil diacara 17 Agustus-an.. dlm rangka mewakili SMA 2 pentas panggung di Alon2 Jombang. Acara dimulai pukul 19.00,sejak sore hari teman2 sudah mulai berdandan dan bersiap2..ada yg berias diri....ada yg lagi menghafal skenario....kebetulan kostum baju yg dipakai cak Sony dan kawan2 ter-
buka atasnya, bawah pakai jarit ala prajurit jaman Majapahit. Disinilah Tragedi mulai terjadi...:

Dengan semangat 45 teman2 sudah siap di Alon2 tepat pukul 19.00, kita mengira waktu manggung kita sekitar jam 19.30 an , wajah teman2 kelihatan ceria karena penonton nya banyak dan sangat ramai........

pukul 20.00..kita blm dipanggil sama panitia..teman2 sudah mulai resah...pukul 21.00 kita blm dipanggil jg..teman2 sudah cemas, penonton juga sudah mulai pulang, hanya tinggal penjual2 kacang goreng, tahu solet yg msh ada.....alhasil teman2 yg pakai baju terbuka mual2 dan Huek2 karena kena angin malam alias kembung....ditambah faktor lapar hanya makan snack saja......

waduhhhhh....

akhirnya kita tampil dengan kekuatan yg msh tersisa meskipun hanya satu dua penonton yg msh ada dan bertepuk tangan..kita tetap sudah menjalankan tugas kita sebagai wakil Smada berjuang di panggung Hiburan.. hehehe .....

dan besoknya....banyaklah teman2 yg tidak masuk sekolah karena Sakit....Pufffff!!!!

Demikianlah sekilas cerita dari Team Operet Smada88 Jombang.....Bravoo..salam

sukses selalu........

By : Hendah W. Arnani

Senin, 02 Maret 2015

Kebo Kicak Karang Kejambon

Bagi si penelurus cerita rakyat, cerita kuno Kebokicak yang telah berkembang menjadi cerita tutur di wilayah Jombang bukanlah perkara gampang untuk dibabar-tuliskan. Satu sisi “sang cerita” telah menempat terutama pada ingatan orang-orang sepuh, dan hal itu sangat memungkinkan untuk terceritakan kembali pada orang lain, pada generasi selanjutnya. Satu kesulitan lain adalah cerita tersebut hingga saat ini tak tertuliskan, atau seandainya sudah ada yang menuliskannya, kita belum mengetahuinya. Artinya dalam konteks filologis adakah manuskrip ihwal cerita Kebokicak nyata-nyata tertemukan dan memiliki jarak masa tertentu sebagaimana yang secara akademis memenuhi persyaratan sebagai sumber keilmuan yang otentik dan akurat, misalnya naskah tersebut telah diserat oleh seorang pujangga di masa lampau, mungkin masanya bisa seratusan tahun silam, dan karenanya jika memang itu ada dapatlah dijadikan rujukan.

Maka yang fiksi dan yang fakta atas nama sebuah cerita, untuk sementara, kita posisikan dulu cerita Kebokicak itu di tengah-tengahnya. Boleh jadi cerita ini adalah dongeng, dan dongeng merupakan jalinan pengisahan dari masa ke masa yang berfungsi sebagai klangenan atau penandaan dari ritus sosial dan muasal lokus yang melatarinya.

Terkait itu, satu gerakan literasi dalam bentuk pelacakan cerita Kebokicak yang dilakukan mahasiswa STKIP PGRI Jombang angkatan 2007, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, patut diapresiasi. Mereka melakukan penelusuran ke berbagai narasumber di Jombang, untuk selanjutnya dibukukan dengan judul Kebokicak Karang Kejambon (Saduran Cerita Rakyat Jombang).

Ada 13 versi cerita Kebokicak di sini yang tidak mengisahkan secara keseluruhan, namun dalam bentuk fragmen atau petilan: 1. Kebokicak Karang Kejambon (Versi Ketoprak). Narasumber: Ki Waras, usia 56 tahun, pimpinan ketoprak dan campursari dari Kedung Doro, Kecamatan Tembelang. 2. Hitam Tidak Menutup Putih(Kemenangan Surontanu), narasumber: Mohammad Kosim, 80 tahun, pemain ketoprak dari Dusun Tengaran RT 1/RW 1, Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan. 3. Desa Randu Watang. Narasumber: Ponari, 58 tahun, tokoh masyarakat dari Dusun Dero, Desa Kedung Betik, Kecamatan Kesamben. 4. Mati Satu, Harus Mati Semua (Mukti Siji Mukti Kabeh). Narasumber: Ki Harya Yahmad Hadi Pranoto, 58 tahun, seorang dukun dari Desa Brangkal, Kecamatan Bandar Kedung Mulyo. 5. Relikui Kebokicak Mosaik Jombang. Narasumber: Pariyadi, 64 tahun, seniman ludruk dari Gudo, dan Mbah Nur, 66 tahun, seorang guru spiritual dan pemuka agama Hindu dari Jl. Kandangan 24, Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro. 6. Telatah Surontanu. Narasumber: Purwito, 57 tahun, ia mengaku sebagai keturunan ke-4 Surontanu yang tinggal di Dusun Sumonyono, Desa Cukir. 7. Joko Tulus (Kebokicak Karang Kejambon). Narasumber: Sukono, 58 tahun, Jl. Mojoanyar Gang 7, Bareng. 8.Banteng Tracak Kencana. Narasumber: Jamadi, 80 tahun, Desa Sumber Nangka, Kecamatan Tunggorono. 9. Legenda Jombang (Pertarungan Kebokicak Surontanu). Narasumber: Ngaidi Wibowo, 63 tahun, lahir 10 Oktober 1947, Desa Dukuh Klopo, Kecamatan Peterongan. 10. Kebokicak Karang Kejambon. 11. Napak Tilas Joko Tulus. Narasumber: Abdul Hafidz, 80 tahun, tokoh masyarakat Dapur Kejambon, Kecamatan Jombang. 12. Perebutan Kidang Tracak Kencana. Narasumber: Katijan, 70 tahun, ia adalah seorang dalang, guru karawitan dan guru sinden, tinggal di Jombatan Blok O No. 19, Kecamatan Jombang. 13. Dewi Mangurin dan Joko Tulus. Narasumber: Saleh, 81 tahun, di Desa Dapur Kejambon, Kecamatan Jombang.

Dari semua petilan cerita Kebokicak di dalam buku tersebut menghadirkan corak yang berbeda-beda. Ada beberapa yang singkron. Ada juga yang untuk sementara perlu diperjelas manakah pakem atau cerita baku dari keseluruhan cerita Kebokicak. Sebab tak ada otoritas yang bisa dikatakan ini yang sah atau pun itu yang pakem dari kisah Kebokicak ini. Kiranya perlu pula upaya penulisan cerita ini terus dieksplorasi lebih dalam, konprehensif, dan bagaimana memilih informan yang benar-benar tepat yang selanjutnya data-data wawancara tersebut paling tidak mendekati pada semacam keselarasan dan “satu arus” yang merujuk pada kisahan Kebokicak yang akurat dan yang sebenarnya. Ini menjadi penting untuk pengembangan penelitian ke depan.

Jika merujuk pada penelitian skripsi yang dilakukan oleh Puspita Indriani, mahasiwa Unesa, dengan judul Pengaruh Cerita Rakyat Kebokicak Karang Kejambon Terhadap Masyarakat Pendukungnya (2003), menyebutkan bahwa versi cerita Kebokicak dibagi menjadi dua. Pertama versi abangan, dan yang kedua versi santri. Versi pertama menitik-beratkan pada masa kerajaan Majapahit saat rajanya adalah Brawijaya V. Yang kedua, versi santri yang menyiratkan masa Brawijaya V juga, namun anasir pesantren di daerah yang kini disebut Tebuireng itu dimunculkan dan menjadi lokus sentral.
Selain kita bisa membaca dan menilai dari 13 cerita tersebut, saya ingin melongok sisi lain dalam versi santri serta selubung silsilahnya dan cerita Kebokicak yang sudah pernah ditulis dalam bahasa Jombangan (ludrukan) oleh tokoh ludruk Jombang, Ngaidi Wibowo.

            Pada kisaran akhir 2008, saya melakukan wawancara perihal cerita Kebokicak dengan Kiai Hafidz dari Dapur Kejambon. Tuturan kiai ini saya susun demikian:

Tersebutlah sosok yang bernama Ki Nur Khotib, ia adalah menantu Kebokicak yang kala itu menjadi demang Karang Kejambon, yang ditunjuk oleh kerajaan Majapahit. Istri Ki Nur Khotib adalah putri Kebokicak, namanya Wandan Manguri. Wandan Manguri ini merupakan cucu dari Brawijaya V dari istri Wandan Kuning. Wandan Kuning memiliki 2 anak. Yang pertama yakni Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng. Yang kedua adalah Wandan Wangi. Semenjak Wandan Kuning mengandung jabang bayi berupa Wandan Wangi, Brawijaya V sebagai suaminya menyerahkan istrinya tersebut kepada Mbah Pranggan di daerah Karang Kejambon. Ketika Wandan Wangi dewasa dikawinkanlah ia dengan Demang Kebokicak. Maka, Kebokicak merupakan menantu dari Brawijaya V. Mbah Pranggan adalah bapak tiri Wandan Wangi, dan Kebokicak adalah mantu tirinya (silsilah ini atas anjuran Kiai Hafidz perlu ditaskhihkan kepada Kiai Jamal di Ponpes Al-Mihibbin Tambak Beras Jombang, di mana beliau dianggap memiliki rekam-jejak yang baik terkait itu).

Kiai Muchtar konon berasal dari Banyuarang, Ngoro. Ia memiliki putra bernama Kiai Nur Khotib. Kiai Nur Khotib kemudian berhijrah ke Gembong Lekok, Pasuruan, dan dimakamkan di sana. Ia memiliki 2 putra: pertama Mbah Suropati atau Mbah Angklung. Yang kedua adalah Mbah Ali. Mbah Ali memiliki putri bernama Rubaniyah yang diperistri oleh santri pondok pesantren Mimbar dari Sambong yang bernama Nuruddin asal Sendang Duwur, Lamongan. Nuruddin dimakamkan di Desa Banggle, dan nama makamnya dikenal dengan sebutan Makam Mbah Surgi. Putra kedua Mbah Ali adalah Kiai Umar di Kapos. Mbah Ali wafat di Mekah sewaktu menjalankan ibadah haji bersama 4 putranya. Pulang dari Mekah tinggal 3 orang anak: Mbah Kiai Zen, Mbah Kiai Idris, dan Mbah Kiai Abdullah. Kiai Ali konon merupakan syekh pertama dari Jawa Timur. Menurut cerita tersebar, putra Kiai Umar adalah Kiai Farhan, dan Kiai Farhan adalah kakek Kiai Hafidz.

            Baiklah, sekarang, saya coba memasuki cerita Kebokicak dari versi ludruk yang pernah dipentaskan dan disutradarai oleh Kiai Farhan, Pak Ngaidi Wibowo, dan beberapa sutradara ludruk lainnya pada tahun 1970-an. Pada pengujung 2008, saya melakukan wawancara untuk penulisan Sejarah Ludruk Jombang, saya menyambangi Carik Karsono di Dusun Jalinan. Ia adalah tokoh gaek Ludruk Kopasgat yang pernah jaya di tahun 1980-an. Sudah lama ia meludruk bahkan sebelum Gestok 1965. Ketika itu ia sempat bercerita sekelumit tentang lakon Kebokicak yang pernah diludrukkan. Pada dan dari orang lain, adalah Agus Gundul, ia tak lain adalah putra Carik Karsono. Pada malam yang sama, setelah saya tak bisa secara lengkap mewawancarai Carik Karsono karena sesuatu hal, maka saya teruskan ngobrol “saut manuk” (tentang apa saja) dengan Agus Gundul. Ia menceritakan bahwa bapaknya memiliki manuskrip Kebokicak atau sebut saja serat Kebokicak. Nama penyeratnya tidak diketahui. Carik Karsono tidak pernah menunjukkan padanya, hanya menceritakannya. “Serat” itu dianggapnya gaib, karena kadang muncul, kadang menghilang sendiri. Jadi, ada kesan klenik dari potongan cerita ini. Tapi abaikan saja untuk sementara.

Mari kita tengok apa yang ditulis Ngaidi Wibowo sebagai sutradara ludruk yang menurutnya pernah sampai 2 atau 3 kali mementaskan lakon Kebokicak dan ternyata berhasil. Mitos membuktikan, bahwa ada beberapa grup ludruk yang tidak mencukupi syarat-syarat sesajen saat memanggungkan lakon Kebokicak, maka terkenalah mereka bala atau bencana. Jelas tanggapan ludrukannya bubrah, karena ada 1 atau 2 penonton atau pemainnya yang kerasukan entah oleh dedemit atau arwah Kebokicak.

Nah, Pak Ngaidi ini kira-kira mulai menulis sekitar tahun 2000-an. Terbilang sangat jarang orang ludruk mampu meluangkan waktu untuk menulis, selain rendahnya tingkat pendidikan mereka. Cerita Kebokicak yang ditulisnya tersebut terdiri dari 31 adegan. Adegan di sini dimaksudkan sebagai tulisan lakon ludruk yang dinarasikan, bukan yang telah dihafal terutama maupun oleh para pemainnya, yang kemudian antar pemain ini sudah tahu spelan (urutan dialog apa dan dengan siapa)-nya. Saya cuplikkan 2 adegan dari naskah Pak Ngaidi:

Adegan I

Amiluhur Lembu Peteng nrimo wisik soko Hang Murbeng Dumadi. Sak gugure Tumenggung Surono ilang ono Brantas Mojopait perbatasan Kediri. Koyo-koyo Mojopait sisih kulon kocak lan goncang. Akeh poro penduduk sing podo wedi lan ngungsi. Lan wisik sing ditrimo Lembu Peteng iku nyoto tur bener, ning nyatane sak wetane Brantas Mojopait ono sorot utowo ndaru rutuh kang warnane ijo lan abang tumibo ono alas Mojopait kang sisih kulon. Mulo Gusti Lembu Peteng nugasno lan mertopo ono nggone ndaru kang tumibo ono ing kunu.

Adegan 19

Ladang. Surontanu bebedak bawa Banteng Tracak Kencono ono alas kidul wilayah Mojopait ing kunu ketemu Kebokicak sing dikawal poro prajurit Mojopait. Terus Kebokicak ndangu adine Surontanu Adiku Di Surontanu suweh anggonku ngupadi marang kuwe Di sak metune soko dempokan aku kaprentah Bopo Guru Sopoyono toleki kuwe Di mung butue aku diutus nyuwun utowo njaluk ameng-amengmu yo Banteng Tracak Kencono minongko kanggo kekah lan digawe tumbal ono Dempok Cukir yo Tebuireng.

Critane ganti. Surontanu nyambung. Kakangmas Kebokicak kulo mboten bakal mulungaken Banteng Tracak Kencono ten sinten kemawon senajan toh Bopo Guru piambak engkang nyuwun. Sebab kulo sampun sumpah kaliyan Banteng Tracak Kencono mati Surontanu mati Banteng Tracak Kencono saboyo urip lan saboyo pati. Mulo Kakangmas Kebokicak kulo mboten saget pisah serambut kalian ameng-ameng kulo.

Kebokicak ndangak, langsung nyambung. Adi Surontanu berarti kuwe ora mesakake kawulo ing dempokane Bopo Guru Sopoyono. Mulo Adimas Surontanu, Banteng Tracak Kencono iku kewan wis jamak digawe lumprah nek kenek digawe kekah ono dempok Tebuireng kunu lan kanggo tumbale pedempokane kuwe lan aku. Mulo Adi Surontanu oleh tak jaluk ora oleh tetep tak suwun Banteng Tracak Kencono.

Surontanu ngadek sambil nyandak keluane Banteng Tracak Kencono, baru nyambung. Kakangmas Kebokicak ing ngarep aku wis ngomong sopo wae njaluk banteng ameng-amengku iki ora bakal tak wulungake.

Kebokicak ngadek samujajar marang adine Surontanu sambil ngomong keras sampek dadekno geger. Hee, adiku Surontanu jelas kuwe ora mesak ake sedulurmu seng ono padempokan kono. Mulo dino iki Banteng Tracak Kencono oleh tak jaluk ora oleh bakal tak rebut. Akhirnya geger Surontanu lan Kebokicak. Surontanu kasoran yudo Banteng Tracak Kencono disaut digowo mlayu lan playune Surontanu ngalor nyasak tanduran parine wong karang perdesan. Perjalanan Kebokicak mbujung lakune Surontanu. Kebokicak bengok kanti Bende Tengoro ing kunu ngrapal Aji Begandan. Kebokicak ngerti playune Surontanu. Ehladalah, playune Surontanu ndadak nyasak parine wong karang perdesan. Ngertenono prajurit Mojopait lan wong karang perdesan kene iki besok keno diarani Deso Parimono kaseksanan bumi lan langit, suket lan gegodongan. Kebokicak langsung mbujung lakune Surontanu.

Ganti perjalanan Surontanu. Ing alas kunu Surontanu ape gawe delikan. Ben ora dingerteni marang Kakang Kebokicak. Ing alas kunu ono uwit mojo sing cacahe songo. Surontanu urung sampek klakon gawe plindungan tiba-tiba Kebokicak dikawal prajurit Mojopait lan Surontanu siap mentang panah. Busur panah diluncurno arepe manah Kebokicak. Ning nyatane keno prajurit Mojopait sing cacahe songo nemoni praloyo pati. Terus Surontanu mlayu ngulon tolek dedelikan kanggo nylametno Banteng Tracak Kencono.

Lari. Sak mlayune Surontanu, Kebokicak tambah ngamuk, eleng-eleng prajurit seng ngawal Kebokicak cacahe songo mati keno panahe Surontanu. Kebokicak langsung ngomong marang sesah prajurit sing ngawal pati, hee, prajurit sing ngawal aku kabeh ngertenono kanggo tetenger besok rejane jaman papan kene kenek diarani Deso Mojo Songo. Mulo prajurit saksenono. Sabanjure Kebokicak jenengake deso langsung bujung lakune Surontanu lan Banteng Tracak Kencono.

Dua penggalan adegan di atas selanjutnya dalam tilikan sastra tutur maupun sastra tulis menjadi rangkain plot dan konflik dari cerita geger Kebokicak memburu Surontanu. Dari versi santri, diceritakan bahwa tersebutlah nama Padepokan Pancuran Cukir yang kala itu diserang pagebluk. Guru sepuh padepokan itu, Ki Ageng Sopoyono, dapat wangsit berupa bahwa untuk mengatasi wabah itu satu-satunya cara adalah dengan menumbalinya dengan hewan berbulu putih. Ki Ageng Sopoyono memiliki dua murid: Ki Ageng Buwono dan Ki Ageng Pranggang. Ki Ageng Buwono memiliki anak perempuan bernama Wandan Manguri yang dikawin oleh Pamulang Jagad. Dari keduanya lahirlah Joko Tulus alias Kebokicak. Sementara Ki Ageng Pranggang punya putri bernama Niluh Padmi yang bersuamikan Tumenggung Surono. Dari keduanya lahirlah Joko Sendang atau Surontanu. Dari peristiwa pagebluk itu, kemudian Surontanu atau Joko Sendang ditugaskan untuk mengatasinya. Namun ia tidak bisa. Ia hanya dapat seekor banteng yang bisa tata jalma (dapat berbicara). Banteng ini bernama Banteng Tracak Kencana yang  tubuhnya disusupi dua siluman Lirih Boyo dan Bantang Boyo. Karena Surontanu tidak mau menyerahkan Banteng Tracak Kencana, dan ia melarikan diri, maka Kebokicaklah yang kemudian diperintah untuk merebut rajakaya itu. Kebokicak mempunyai ajian: Bende Tengoro (Canang Baung), Singo Begandan (Singa Pelacak),Rompi Lulang Kebo Landung (Rompi Kekebalan Kulit Kerbau), dan Gedruk Gongseng(Krimpyingan Penggedruk). Sedangkan Surontanu hanya punya Ajian Kekebalan dan Banteng Tracak Kencana.

Tukang Cerita dan Jejak Kampung

            Cerita Kebokicak yang lebih masyhur salah satunya adalah saat pengejaran Kebokicak terhadap Surontanu untuk memperebutkan Banteng Tracak Kencana. Jejak-jejak pengejaran itu menilaskan nama-nama kampung atau desa yang hingga kini nyata ada dan menjadi bagian admistratif struktur pemerintahan Kabupaten Jombang. Riwayat kampung, rangkaian pencerita dari masa ke masa, kadar orisinalitas, validitas, pun susupan-susupan yang berkelindan, turut serta membentuk sebuah unggunan naratif yang membuka lebar beragam sumber yang saling mengisi. Seperti apakah para tukang cerita mengudar si cerita, yang tak lepas dari tendensi dan subyektifitasnya, menggelar pengisahan Kebokicak dari waktu ke waktu, hingga dari cucu ke cucu? Yang pasti, tukang cerita bergerak di ambang yang mistis dan di sisi lain tak lebih imajinatif belaka. Di bawah ini beberapa nama kampung atau desa yang menjadi arena pengejaran itu:

(1) Parimono: Surontanu lari bersama Banteng Tracak Kencono. Tibalah ia di sebuah persawahan nan luas. Kebokicak datang bersama 9 nawabayangkari. Terkejut melihat Kebokicak, Surontanu mengentakkan tali banteng dan nyasak pepadian yang menghampar. Kebokicak menggeleng geram menyaksikan itu. Maka lahirlah sebutan Parimono (padi yang disasak hingga rusak).
(2) Mojosongo: Surontanu membikin persembunyian dari akar-akaran, ranting-ranting, dan daun-daun klaras, sementara di sekitarnya dikitari pepohonan maja. Ia membawa panah. Kebokicak datang bersama 9 nawabhayangkari. Pertarunganpun berkecamuk. 9 prajurit Kebokicak binasa oleh panah Surontanu.
(3) Jambu: Surontanu terbirit-birit ke arah barat. Mengikat bantengnya di sebuah pohon jambu milik Ki Dumadi. Belum sempat beristirahat nyenyak, Kebokicak pun datang.
(4) Jombang: Surontanu lari ke utara. Menemukan kolam. Ada rumah beratap jerami, alang-alang, lalu ada pemandian kerbau. Ada cahaya ijo dan abang dari dasar kolam melesat ke langit dan menebarkan cahaya yang terang cemerlang. Keduanya bertemu dan terjadilah percekcokan. Pertarungan sengit. Surontanu terpukul mundur. Ia lari ke arah timur. Kolam jadi acak-acakan.
(5) Ringincontong: Ada pohon beringin raksasa. Seumpama ada 10 orang mengitarinya dengan membentangkan kedua tangan maka tak bakal mencukupinya. 9 nawabhayangkari dating membantu Kebokicak. Mereke bertempur lagi. Mereka tak kuasa mengatasi kanuragan Surontanu. Kebokicak turun tangan. Ia mengeluarkan aji Singo Begandan, dan Bende Tengoro. Surontanu kewalahan. Ia lari ke tenggara.
(6) Mojongapit: Ada sekelompok tayub menggelar pertunjukan. Surontanu masuk ke situ. Menyamar. Lalu muncullah siluman Sardulo Onggo Bliring (berupa macan loreng). Ternyata siluman ini adalah kawan Kebokicak. Si Bliring mencekik Surontanu. Menjepit lehernya dengan kayu randu. Surontanu meronta-ronta. Kebokicak muncul. Bliring terkaget sebentar, dan jepitannya terlepas. Surontanu sedikit dapat bernapas, lalu ia lari lagi ke tenggara.
(7) Sumber Peking: Tampaklah rumbukan pring yang rimbun. Terdengar mata air yang jernih yang menggemericik deras bak bunyi alat peking. Surontanu bermalam di situ, di sebuah rumah seorang janda bernama Nyi Gulah. Kebokicak datang. Namun Surontanu telah pergi ke barat kala terbit fajar.
(8) Sumber Sapon: Di pagi yang mulai terik itu ada seorang janda menyapu halaman rumahnya, ketika Kebokicak datang dan menanyakan padanya adakah seorang lelaki berbaju hijau lewat di situ. Si janda mengiyakan. Sardulo Onggo Bliring yang mengikuti Kebokicak menyarankan untuk terus mengejar. Mereka bergerak lagi dan singgah di Desa Karang Kejambon. Kebokicak meminta Bliring untuk jalma menus (menjadi manusia) seperti dirinya. Ini diniatkan Kebokicak untuk sementara waktu menggantikan posisinya untuk mengatur desanya. Kebokicak meminta penduduk agar atap rumah  mereka dpasangi welit atau daduk tebu. Bliring sendika dawuh atas perintah itu. Kebokicak bergegas mengejar Surontanu.
(9) Bantengan: Sejak mula desa ini memang bernama Bantengan. Surontanu sembunyi di situ. Di rumahnya sendiri. Tampaknya Niluh Padmi, ibu Surontanu, sedang memberikan sebungkus nasi pada anaknya itu. Surontanu tak menceritakan apa yang terjadi. Sehabis makan, ia pamit. Tak lama kemudian, Kebokicak tiba. Perbincangan singkat. Niluh padmi terperanjat mendengar cerita Kebokicak. Ia menangis dan meminta pada Kebokicak agar berdamai dengan Surontanu. Kebokicak berjanji akan bertindak yang terbaik, jika Surontanu mau menyerahkan Banteng Tracak Kencana. Lalu Niluh Padmi menunjukkan bahwa Surontanu lari ke barat.
(10) Tamping Mojo: Ada arak-arakan temanten yang merayakan perkawinan Joko Tamping dan Siti Wulanjar. Surontanu menyusup ke dalam arak-arakan. Kebokicak datang memberitahu bahwa di dalam rombongan itu ada perusuh bernama Surontanu. Joko Tamping tahu lalu melawan Surontanu. Ia dikeplekkan Surantanu sampai pingsan lalu mati. Siti Wulanjar menjerit-jerit sambil bersimpuh memeluk mayat Joko Tamping. Kebokicak tertegun dan sekejap ia tak kuasa bertindak. Cepat-cepat Surontanu kabur ke selatan.
(11) Ngrawan: Kebokicak tak segera mengejarnya. Ia memulangkan Siti Wulanjar ke rumah orang tuanya. Lalu daerah si pengantin malang itu diparabi Desa Ngrawan.
(12) Nglungu: Kebokicak kemalaman, dan plonga-plongo (tolah-toleh), di jalan dan melihat arah barat dengan mata ngungun. Lamunannya melendot panjang ke entah.
(13) Petengan: Kebokicak tampak putus asa, ia duduk lesu di sebongkah bangkai kayu, langit terasa gelap menyelimuti hatinya. Membayangkan angkasa terasa pahit dan berkabut tebal di Karang Kejambon.
(14) Glugu: Surantanu lari ke utara. Ia menemukan glugu yang roboh melintang di kali Konto (anak sungai Brantas). Kebokicak datang. Surantanu mecetat  (lari cepat) ke timur.
(15) Dukuh Klopo: Di tempat ini Surantanu membangun benteng dari batang-batang kelapa. Pancang-pancang yang kokoh. Kebokicak tiba. Ia lari ke timur.
(16) Tengaran: Ini tempat Surontanu memasang umbul-umbul berwarna-warni. Kebanyakan berwarna hijau. Ketika Kebokicak menyusul, ia kabur ke arah utara.
(17) Ndero: Surontanu memasang bendera perang warna merah. Lalu ia lari ke barat saat Kebokicak datang.
(18) Kandang Sapi: Banteng Surontanu menyelinap di kandang sapi milik Ki Wongso. Kebokicak datang. Dialog dengan Ki Wongso. Surontanu lari ke utara.
(19) Kedung Betik: Surontanu mandi di kedung atau telaga yang banyak ikan betiknya. Kebokicak datang. Surontanu lari ke barat.
(20) Tenggulukan: Surontanu sembunyi di Rawa Perning. Surontanu ketemu dengan siluman Celeng Kecek yang mengusili si banteng Tracak Kencana. Lalu Celeng Kecek dibunuh Surontanu. Kebokicak datang. Surontanu lari ke utara. Celeng Kecekditengguluk (dipanggul) Kebokicak, sebab ia dianggap telah membantunya, lalu dikuburkan di dekat kali Brantas.
(21) Keboan: Banyak orang mengguyang (memandikan) kerbau. Surontanu dan Kebokicak bertarung sampai tewas di situ. Dua siluman Bantang Boyo dan Lirih Boyo keluar dari Banteng Tracak Kencana lalu membenamkan banteng itu di dasar kali Brantas. 9 nawabhayangkari yang barus saja datang hendak membantu Kebokicak langsung dibinasakan oleh dua siluman itu. Batu gilang, siluman Buntung Boyo.

Ihwal 13 Versi Kebokicak

Dari 13 versi cerita Kebokicak yang disusun mahasiswa STKIP PGRI Jombang di atas, ada beberapa versi yang patut dicermati, selain beberapa versi lain yang serupa. Seperti versi Joko Tulus (Kebokicak Karang Kejambon) dengan narasumber Sukono. Versi ini agak ganjil dari versi umum. Saya coba rangkum point pokoknya:

Sosok Joko Tulus berasal dari Tulungagung, dekat Gunung Kelud. Ia ingin mengembara demi menguasai suatu wilayah di utara yakni Jombang. Lalu dilarang ibunya, tapi ia membangkang, maka ibunya mengutuknya jadi Kebokicak. Kebokicak ini tetap meneruskan kembara ke Jombang. Di tengah jalan bertemu kakek sakti bernama Ki Surontanu lantas ia menjadi gurunya. Kebokicak lalu melamar putri Majapahit (tidak disebutkan nama sang putri) dalam bentuk sayembara. Ia menang, tapi lamarannya ditampik. Ia balik ke padepokan Bantengan, dan diberi pusaka Kalung Kuning oleh Ki Surontanu. Kalung ini dapat direbut oleh Putri Majapahit dengan muslihat halus. Kebokicak tak berdaya, namun tak dibunuh dan pulang ke Bantengan. Ki Surontanu membawanya ke Kiai Muchtar di Banyuarang untuk disembuhkan. Ia sembuh, lalu masuk Islam. Karena di Banyuarang terjangkit pagebluk, ia diutus Kiai Muchtar untuk pinjam pusaka Tracak Kencana kepada Ki Surontanu sekaligus mengajaknya masuk Islam. Ki surontanu menolak seraya nyumpah-nyumpah. Terjadilah perang tanding antar keduanya. Ki Surontanu kalah. Pergi bertapa. Ia nantang Kebokicak lagi dengan membawa keris saktinya dan mampu menebas leher Kebokicak. Jasad Kebokicak digotongnya dan ditenggelamkannya ke wilayah berlumpur di Sendang Biru. 

Coba kita simak lagi versi Banteng Tracak Kencana dengan narasumber Jamadi yang saya sarikan berikut ini:

Disebutkanlah Raja Wijaya di masa Majapahit mengalami kemunduran di bawah bayang-bayang serangan Demak. Ia memiliki selir namanya Arum Sari. Mereka punya 3 putra: Jaka Samar, Jaka Suwana, dan Jaka Suwandi yang tinggal di Desa Karang Jambu. Ketiga putra ini memperdalam ilmu ke wilayah selatan di perguruan Eyang Sandi atau Kiai Soponyono di Desa Sumonyono. Waktu belajar silat, Jaka Suwandi hilang dan dicari-cari. Eyang Sandi mengutus Jaka Samar mencarinya. Sampai ke utara. Menjelang petang baru ketemu. Jaka Samar marah, lalu menyemprot adiknya itu dengan sebutan Jaran Kecek. Suatu kali Arum Sari nyambangi mereka. Di pendapa perguruan ia menyaksikan dua pemuda berlatih tarung. Arum Sari berteriak coba menghentikan mereka. Namun tak dipedulikan. Ia amat jengkel dan meneriaki kelakuan mereka seperti kerbau. Seketika salah seorang pemuda yang tampak piawai bertarung itu kepalanya menjelma menjadi kepala kerbau. Ia tak lain adalah Jaka Samar yang kemudian berjuluk Kebokicak yang sakti. Eyang Sandi menghadiahi Jaka Suwandi karena budi pekertinya berupa hewan bersebut Banteng Tracak Kencana. Suatu hari Kebokicak ingin meminang Pandan Sari. Tapi dengan syarat harus menyerahkan Banteng Tracak Kencana. Kebokicak menyanggupi. Namun Surontanu menolak menyerahkannya. Ia lari. Dikejar Kebokicak. Mereka bertarung. Surontanu lari lagi. Tarung lagi. Surantanu keteter, lari ke rawa-rawa bertebu di barat Desa Sumonyono. Dalam pengejaran Kebokicak itu, jajaran lebat tebu itu seketika menjadi hitam warnanya sebab pengaruh Ilmu Panglimunan Kebokicak. Jadilah kelak daerah itu diparabi Tebu Ireng. Surontanu terus lari ke barat, istirahat di mata air yang berwarna biru yang kemudian tempat itu bersebut Balung Biru. Lalu ia terus berlari dan bersembunyi di jajaran rimbun pohon nangka. Daerah itu kelak berjuluk Sumber Nangka. Kebokicak dapat mengejarnya. Tanding lagi. Surontanu lari ke daerah utara yang dipenuhi daun talas. Bau si banteng dapat dikenali Kebokicak di balik rimbunan daun talas dan tempat ini kemudian bersebut Desa Bantengan. Mereka tarung lagi. Surontanu berhasil membelah jadi dua tubuh Kebokicak. Dengan ilmu Pancasunya, Kebokicak bangkit dari kematian dan mengubah dirinya menjadi macam putih. Ia mengejar Surantanu kembali ke utara di daerah Karang Jambu. Mengubah dirinya lagi menjadi manusia bersebut Sargula. Mengejar lagi. Bertemu. Tarung lagi. Si pengejar kembali lagi ke ujud asalnya: Kebokicak. Pertarungan makin dahsyat dan menghebat hingga memercikkan cecahaya hijau dan merah sampai membelah langit malam yang kian menggelap. Daerah itu karena bertabur berpercikan cahaya ijo dan abang yang menakjubkan maka di kemudian waktu diparabi menjadi Jombang. Si Banteng Tracak Kencana tewas terkena panah Kebokicak. Surantanu kalap. Kebokicak juga kalap. Mereka bertarung kian menggila. Sampai sama-sama tak berdaya. Hingga sama-sama mati keduanya.          

            Dalam versi cerita Telatah Surantanu, bernarasumber Purwito, yang menyebut dirinya sebagai keturunan ke-4 dari Surantanu, tampaknya perlu dipertanyakan. Surantanu yang mana? Adakah kaitannya dengan asal-usul Jombang, yang sebagian besar dari 13 versi cerita menyebut itu walau dengan fragmen, plot, dan tokoh-tokoh, tempat kejadian, munculnya sisipan tokoh lain, nama samaran, yang perlu dicermati kembali sebab ada yang sama juga ada yang berbeda? Pada versi itu Surontanu dimunculkan di masa Majapahit yang mengalami penjajahan Belanda. Ini jelas ahistoris. Lalu cerita bergeliat hingga muncul sosok warok Suromenggolo dari Ponorogo. Lalu pada versi cerita Desa Randu Watang, diceritakan bahwa Jaka Tulus alias Kebokicak memiliki bapak seorang panglima bernama Siro Manggu. Akhir cerita menyebutkan soal pertarungan kebokicak melawan Surontanu yang juga menilaskan jejak persabungan mereka misalnya meninggalkan nama kampung Gedangan dan sungai Gelugu, lalu muncul Walang Kecik yang memusuhi Kebokicak, juga lahir Desa Ngemprak, perkelahian terus berlanjut ke timur lalu beralih ke utara, sampai dua orang ini sama-sama mati di tengah-tengah pertempuran. Tubuh mereka disaksikan orang-orang yang lewat di situ. Di antara warga ini menggoyang-goyangkan jasad mereka dengan sebatang watang (dari ranting pohon randu) untuk membuktikan apakah mereka telah mati. Maka lahirlah Desa Randu Watang atas kejadian itu.

Bagaimanakah pembaca yang, setidaknya, pernah akrab dengan cerita Kebokicak versi santri yang saya cuplikkan di awal menilai 2 versi lain dari narasumber Sukono dan Jamadi? Ada kembangan cerita lain di sana, bergerak sendiri, bersemayam jauh di kedalamannya, saling susup-menyusupi, yang tentunya menyimpan “dunia sunyi” masing-masing dalam ingatan kolektif sosialnya. Satu anggapan, yang sebenarnya sah-sah saja namun terkesan gegabah, kala mengaitkan cerita Kebokicak dengan lahirnya daerah Jombang. Tradisi lisan dan mitos tentang sosok ini begitu dominan, walau tidak semua warga Jombang tahu. Karena itu tetap membutuhkan kajian historis spesifik secara akademis, bukan sekadar beranjak dari legenda untuk menautkan dan selanjutnya menemukan titik-terang kesejarahan sebuah wilayah.   

---

Fahrudin Nasrulloh, cerpenis dan pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang